Belajar Menghargai Dari Sebutir Nasi

image

Siang hari, waktu menunjukkan pukul 13.33 WIB, dimana saat itu aku sedang menunggu di kampus untuk menghadiri acara makan makan teman ku karena dia sedang ulang tahun, alhamdulillah disaat kelaparan ada berkah di siang hari, makan gratis. Aku bersama beberapa orang temanku pun diundang oleh teman ku yang berulang tahun ke salah satu rumah makan di daerah Palur, katanya sih tempatnya cozy gitu, rumah makannya ditengah sawah, jadi kita makan dengan pemandangan sawah di sekitar kita. Oke tanpa tedeng alih-alih, kami pun segera berangkat berbondong-bondong ke rumah makan tersebut.

Setibanya disana, tempatnya benar benar lumayan dengan view sawah disekeliling nya, saat itu rumah makan agak ramai karena mungkin sudah waktu nya jam makan siang kantor. Kulihat di salah satu gazebo terlihat temanku melambaikan tangan memberi isyarat bahwa dia sudah membooking tempat untuk kami. Ternyata yang ulang tahun belum datang di rumah makan ini. Sambil menunggu si Induk Semang yang akan mentraktir kami yang kelaparan ini, kami disuguhi senandung lagu lawas yang diiringi oleh orgen tunggal yang dimainkan oleh seseorang yang (maaf) tuna netra. Walaupun dia memiliki kekurangan tetapi dengan jemari lihai nya dia menekan tuts keyboard dan mengomposisikan nada nada sehingga menjadikan nada yang apik untuk didengar oleh telinga.

Satu demi satu pesanan kami diatar oleh pramusaji, dan disaat itu pula hampir bersamaan teman ku yang berulang tahun tiba di lokasi. Dimulai dengan doa, kami pun segera menyantap nasi ayam tulang lunak yang berada di hadapan kami, dengan sambel bawang berwarna orange, lalapan dan urap urap (gudangan), dan segelas es teh. Perlahan tapi pasti, nasi dan ayam yang telah di cocol dengan sambal bawang masuk ke dalam rongga mulut, di saat makananku hampir habis tiba tiba temanku memberikan tiga per empat nasi nya kepadaku, oke ada tambahan energi, langsung aku santap. Perut pun penuh dengan makanan, dan aku kekenyangan karena mendapat hampir dua porsi nasi dan sepotong ayam dada tulang lunak, alhamdulillah.

Aku lihat teman temanku, mereka juga terlihat kekenyangan, aku lihat meja meja yang lain berada tidak jauh dari gazebo kami, ternyata masih ada sisa nasi yang tidak dimakan, ada yang masih utuh, ada yang masih setengah, ada juga yang sudah tinggal satu suapan. Banyak sekali pengunjung disini yang menyisakan makanannya. Aku merasa kasihan kepada orang yang menyisakan nasi dipiringnya. Kenapa mereka tidak bisa menghargai kenikmatan dari Allah berupa makanan dan hanya sebutir nasi saja. Dalam hati aku berkata “semoga mereka yang menyisakan makannya diampuni dosa dosanya”.

Seminggu sebelumnya aku bersama ayah ku pergi ke daerah Karangpandan untuk melihat sawah yang digarap oleh kenalannya dengan sistem bagi hasil. Dari situlah aku paham bagaimana perjalanan padi sampai bisa menjadi nasi. Memang tidak mudah untuk menjadikan tanaman padi ini bisa menghasilkan beras beras yang pulen dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Untuk menjadi padi yang siap panen membutuhkan waktu yang lama, yaitu sekitar 3 bulan. Nah, dari 3 bulan itu, ada saja hambatan untuk menjadikan tanaman padi ini tumbuh dengan subur, antara lain serangan hama, wereng, tikus, belum lagi cuaca buruk, angin besar yang menyebabkan tanaman padi roboh sehingga tidak bisa dipanen, kekeringan sehingga susah untuk mengairi sawah.

Kerja keras para petani yang dari subuh berangkat ke sawah untuk memberi pupuk, siang harinya mereka membersihkan tanaman padi dari gulma (tanaman pengganggu), dan sore harinya mereka memberi semprotan anti hama dan wereng, begitu seterusnya sampai padi siap panen. Mereka bekerja keras merawat dan menjaga padi mereka dari serangan serangan hama maupun burung liar supaya hasil panen nya bisa memuaskan. Dan mereka bekerja dengan riang gembira, dengan rasa keikhlasan tanpa perasaan mengeluh, mereka berharap bahwa nantinya seletelah panen, beras yang sudah menjadi nasi tersebut bisa dimakan atau dikonsumsi dan dapat mengisi perut orang kota yang kelaparan, sehingga padi yang mereka tanam dapat memberi manfaat kepada banyak orang. Ya manfaat. Dalam Islam, Rasulullah SAW pun bersabda bahwa,

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

image

image

image

image

Coba anda berpikir, dari perjuangan para petani tersebut membanting tulang setiap hari dan perjuangan tanaman padi sendiri dari bibit sampai panen sehingga menjadi nasi yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat termasuk kami, masih kah anda men sia-sia kan nasi yang anda makan?? Memang kebanyakan orang tidak mengerti bagaimana jerih payah para petani karena mereka sendiri tidak pernah melihat bagaimana perjuangan para petani demi menghasilkan makanan pokok kita ini. Aku akui bahwa dahulu sebelum aku diajak pergi melihat sawah oleh ayahku, aku memang orang yang suka menyisakan nasi, tetapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku sadar bahwa untuk menjadi sebutir nasi itu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.

Sebenarmya dalam Islam terdapat dua mahzab tentang nasi yang dimakan, aku lupa sumbernya,

  1. Jika kita makan nasi dan sekiranya kita mampu untuk menghabiskan nasi tersebut maka habiskanlah.
  2. Jika kita makan nasi dan sekiranya perut kita sudah terasa kenyang sehingga nasi tersebut tidak termakan oleh mu maka bungkuslah nasi tersebut untuk diberikan kepada hewan liar atau peliharaan (jika ada). Karena apabila kita memberikan nasi tersebut kepada hewan tersebut, hewan nantinya akan mendoakan kepada orang yang memberikan nasi itu tadi, tidak hanya itu juga apabila si hewan memiliki anak maka si anak juga diajak oleh induknya supaya mendoakan si orang pemberi nasi itu.

Sejak puluhan abad yang lalu Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita semua dengan sabdanya, “Seseorang itu tidak mengetahui pada makanannya yang mana yang mengandung berkah untuknya, sesungguhnya setan itu selalu mengintai untuk merampas harta manusia dari segala penjuru hingga di tempat makannya, karena sesungguhnya pada akhir makanan itu mengandung berkah.” (Silsilah hadits-hadits shahih no. 1404).

Di dalam hadits tersebut Rasulullah SAW mengingatkan bahwa berkah makanan, sangat mungkin berada di biji nasi terakhir yang tersisa di piring, karenanya jangan ditinggalkan. Betapa sering kita menganggap sesuatu yang remeh ternyata sangat bernilai. Betapa sering kita menganggap sesuatu tidak bermanfaat bagi kita, namun sangat dibutuhkan orang lain. Betapa sering kita menganggap sesuatu yang kecil namun sangat penting dan berdampak besar terhadap hidup kita dan hidup orang banyak.

Dari situlah aku belajar menghargai sesuatu hal, dari hal sekecil apapun seperti sebutir nasi yang kita makan tanpa sisa pun kita sudah bisa menghargai kerja keras para petani. Waktu aku umroh kemarin, kami sekeluarga pun sempat mendapat pujian dari para pramusaji direstoran hotel. Mereka senang karena hidangan yang berada di piring kami bersih tanpa sisa, walaupun mereka bukan seorang petani. Dia pun sampai hafal dengan kami dan tiap bertemu kami mereka (pramusaji) selalu memberi wajah yang gembira. Sampe segitunya lhoh.

Mari belajar untuk menghargai sesuatu yang menurut kita kelihatan kecil dan sepele. Bukankah kita pernah mendengar firman Allah SWT, “Dan kamu menganggapnya ringan saja, padahal di sisi Allah adalah besar”. (Q.S. Annur: 150)

Jadi, apa kalian masih ingin menyisakan nasi??

Salam

Alfan Wibi

image

alfanwibi replied to your post: Mengayuh Nostalgia Bengawan

wah, ternyata solo juga ada tempat yg menarik ya buat dikunjungi hehe.. btw acara blusukan itu apa sih?? *pingin ikut*

Hallo, kak. Wah, kayaknya yang nanya ke saya ini traveler ya? Solo itu punya banyak tempat yang menyenangkan, kak. Kaya akan sejarah. Kebetulan saya menyukai budaya dan sejarah, jadi kalo ditanya tempat mana aja yang bagus, mungkin kebanyakan saya akan bilang tempat2 yang budaya. hehe.

Acara yang saya ikutin ini namanya Blusukan Solo, kak. Ini bentuknya kayak komunitas gitu. Tapi tiap mereka ada acara dibuka untuk umum kok. Acaranya kita berkunjung ke suatu daerah dan kita gali lebih dalam tentang sejarah di kawasan tersebut, kak.

Bulan depan ikutan aja, kak. Seru lho. :)

Karena keserempet @ladypon , @yuking_foto sama @alfanwibi , Maka saya putuskan mengadili diri saya sendiri ..

And this is #20factsaboutme :

1. Nama agak panjang : Ananda Arif Nur Hidyatno

2. Cowok

3. Tampan tapi ngepres

4. Single, bukan berarti jomblo

5. Mahasiswa desain yang gabisa ndesain

6. Suka jalan-jalan

7. Suka gunung

8. Suka banget mantengin matahari waktu senja

9. Coffe-is-me

10. Suka musik-musik etnic, country, celtic folk punk, etc

11. Kadang suka mikir hal-hal yang gak terpikir tapi perlu dipikir sampai-sampai kepikiran dan bikin sakit pikir

12. SD di Sragen, SMP SMA di Sukoharjo - Solo, kuliah di Semarang, next time mybe Seoul .. Haha

13. Suka di follow tapi mikir-mikir kalau folback

14. Males mandi

15. Kalau berak lama, kadang disambi baca buku, kadang instagraman juga, tapi paling sering mikir .

16. Suka exploring

17. Ngefans @chrisburkard @fosterhunting sama @puanindya

18. Lahir di negeri eropa, tepatnya di sragentina pada :
19. - 04 - 1993

20. Itu yang nomor 19 gabung ama 18 aja yahh, katanya sih gamau dipisahin .. Udahan yuukkk, yaakk, yuuu’ ..

That’s #20factsaboutme

Yang kena tag share #20factsaboutme kalian juga ya, biar tambah kece badai semuaa ..

Kontemplasi Waktu

Dirumah tua ini aku berdiri. Memandangi tiap sudut bangunan. Entah sudah berapa kali kuhabiskan masa kecilku disini. Kota kelahiranku, masa kecilku, dan orang-orang yang kusayangi.

Rasa-rasanya baru kemarin. Umurku baru lima tahun. Aku bermain di jalan pasir didepan rumah dengan sepupuku. Teringat nenek memarahi kami karna mengotori tembok tetangga.

Rasa-rasanya baru kemarin. Aku bermain dengan Paman dan Bibi. Mereka buatkan aku burung-burung kertas. Sekarang, aku yang membuatkan burung-burung kertas untuk keponakanku. Bermain bersama mereka. Cepat sekali waktu berjalan.

Rasa-rasanya baru kemarin. Aku masuk Sekolah Dasar bertemu dengan teman-temanku yang luar biasa yang saat ini sudah sukses dengan mimpi-mimpinya. Kuhabiskan waktu 6 tahun di bangku sekolah dan cepat sekali waktu berlalu.

Rasa-rasanya baru kemarin. Kuhabiskan waktu enam tahun, tiga tahun SMP dan tiga tahun SMA. Tiap kali lebaran selalu berkumpul dirumah ini. Canda tawa bersama orang-orang tercinta yang semakin menua. Keluarga.

Rasa-rasanya baru kemarin. Waktu terlalu cepat berjalan. Hingga tak berasa aku sudah berada disini lagi. Memandangi tiap sudut bangunan yang menyimpan banyak kenangan. Dedaunan, dan pepohonan menjadi saksi bisu waktu.

Probolinggo, 27 Desember 2013.

—Tulisan2 diantara TA.

9A – Gerbong satu

Pagi hari aku sudah duduk menunggu di ruang tunggu. Menunggu kereta yang tak kunjung datang. Melihat situasi di dalam peron kereta, tampak beberapa orang sibuk dengan gadgetnya masing-masing, terlihat tidak ada saling interaksi satu sama lain, apakah hanya sekedar berbicara basa-basi sembari menunggu, tidak ada. Semua disibukan dengan dunia maya nya masing-masing. Aku bukan generasi menunduk seperti itu, kuajak berbicara dengan seorang ibu-ibu yang kebetulan akan pergi ke Madiun untuk menemui cucunya yang baru lahir. Sesekali aku mengambil gambar pemandangan sekitar Stasiun Gubeng untuk dibagikan kepada social media. Tak berapa lama keretapun datang.

Aku masuk menuju gerbong satu dengan seat 9B sesuai apa yang tertera ditiket. Oh, ternyata ada seorang wanita yang duduk disebelah kursiku. Ah, aku tidak sendirian. Beberapa kata keluar dari mulutku sekedar basa-basi menanyakan tujuan, ternyata dia bukan tipe yang suka berbicara dengan orang asing. Kulirik sesekali, dia asyik dengan gadgetnya, kenapa sih semua orang disibukkan dengan gadgetnya masing-masing? Apa sekarang sudah jamannya generasi menunduk? Tak lama kemudian dia memasukkan alat bundar kecil berkabel yang di masukkan ke dalam telinganya. Yah sudahlah, itu artinya dia tidak mau diganggu oleh orang asing seperti aku ini.

Perjalanan kurang berwarna, karena hanya duduk, melihat pemandangan, dan tidur. Kuhabiskan sisa-sisa waktu dengan buku sambil sesekali melirik pemandangan di luar sana yang sama saja, dari Surabaya hingga Banyuwangi. Melihat stasiun Probolinggo yang aku kota rindukan berkali-kali. Seandainya Probolinggo pindah ke hatimu, tentu aku akan merasa pulang setiap hari. Karena disini rumahku dan aku hanya melewatinya.

Kereta tiba di Stasiun Jember, dan perempuan tersebut berdiri mengambil tasnya dan segera menuju pintu keluar. Oh turun di Jember pikirku. Ahh sendirian lagi nih di baris nomor 9. Aku pindah geser ke seat 9A yang berada di samping jendela kereta supaya bisa melihat pemandangan, pemandangan stasiun. Tak berapa lama datanglah seorang wanita dengan paras ayu, ditambah dengan hijab nya yang bikin adem hati kaum Adam yang melihatnya, sedang melihat barisan-barisan nomor yang ada di atas jendela kereta, rupanya sedang mencari kursi yang sesuai dengan yang tertera di tiketnya. Dalam hati aku berkata,

“9A… 9A… 9A….”

“Maaf mas, ini 9A gerbong satu ya?”

“oh, iya mbak..”

Terima kasih Tuhan. Mudah-mudah bisa jadi teman ngobrol yang asik. Aku ragu, apakah aku harus memulai membuka pembicaraan. Terlalu memikirkan hal tersebut membuat aku melamun ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tiba-tiba sesuatu membuyarkan lamunanku. Dia membuka pembicaraan. Senang rasanya.

Kami berkenalan. Namanya Fitri (cinta fitri). Dia baru masuk perguruan tinggi. Kami banyak bercerita, bertukar pengalaman masing-masing. Bribikan Teman perjalanan yang asyik. Dia kembali ke kampung halamannya untuk membantu orang tuanya berjualan. Sabtu minggu dia  tempuh perjalanan Malang - Banyuwangi. Hasil dari penjualannya mereka gunakan untuk membiayai kuliahnya. Perjuangan yang tidak mudah. Aku mengagumi semangat juangnya, ketika mungkin teman seusiaku pada saat weekend sibuk ber-hahahihi di cafe, atau coffee shop menghabiskan puluhan ribu rupiah, atau sedang asik menghisap berbatang-batang rokok. Atau kegiatan tidak begitu penting lainnya, Anak muda ini telah sibuk menghabiskan weekend nya melaju bolak balik 300-an KM.

Bercerita sepanjang kereta berjalan, seakan tidak ada habisnya. Membuat perjalanan ini tidak terasa memakan waktu selama berjam-jam. Kami turun di stasiun yang sama. Rasanya pembicaraan kami di kereta sangatlah singkat. Tak apa lah paling tidak membuat perjalanan panjang ini menjadi berwarna.

Kami berpisah di depan stasiun. Dia mengarah ke kota Banyuwangi, sedangkan aku menuju Taman Nasional Baluran. Aku berada di ruang tunggu stasiun menunggu jemputan. Kupandangi sekeliling bangunan stasiun Banyuwangi. Warna cat menunjukkan bahwa bangunan ini baru saja di cat ulang. Bentuk konstruksi bangunan serta arsitek menunjukkan bahwa bangunan ini asli dari jaman Belanda. Pintu-pintu yang sangat tinggi, serta jendela jendela yang masih memperlihatkan kesan lawasnya.

Beberapa orang sedang tertidur istirahat. Beberapa penjaga stasiun juga duduk santai di dekat pintu masuk peron. Aku mencoba menghabiskan waktu dengan membaca buku, disaat aku akan membuka buku, aku melihat ada sesuatu di pintu keluar stasiun. Rasa penasaran membuat aku pergi beranjak dan menghampiri sesuatu itu.

Ternyata adalah selembar tiket kereta api. Aku terperanjat ketika membaca pemilik tiket tersebut. Fitri A. Kubaca informasi tiket dengan detil. Aku tersenyum.

Aku simpan baik-baik tiket itu. Tak lama kemudian doi datang mencari tiket kepada satpam dan aku segera menghampirinya dan menyerahkan tiket tersebut. Dia tersenyum dan nampak dari raut wajahnya keluar rasa lega setelah beberapa menit penuh dengan kecemasan.

Dia pergi lagi meninggal kan stasiun setelah mengucapkan rasa terima kasih. Senyumku membuncah bak busur panah.

“ah, 3 hari lagi aku bertemu dengan dia lagi, dan kali ini akan ku ajak minum teh atau kopi di ruang restorasi.”

Semoga dia masih ingat.

Mini fiksi ditulis di Soerabaja, 23 Desember 2013

Kukirimkan sepasang mataku

Kukirimkan sepasang mataku,
Agar bisa kau pertemukan dengan bibirmu

Hanya itulah satu-satunya pintu,
Hingga bisa kupandang tembus hatimu

Sekedar mengobati rasa rinduku,
Dikala aku jauh terpaut jarak denganmu

Sabarlah kasihku,
Aku pasti pulang..

Soerabaja, 19 Desember 2013

Intermezo

SORE itu gerimis, kota Solo ketika itu telah di terjang hujan angin selama kurang lebih 2 jam. Sebuah motor matik yang ku tunggangi mengantarkan aku ke salah satu warung makan yang tak jauh dari pusat Kota Solo. Cuaca seperti ini aku rasa cocok untuk menyantap masakan yang berkuah, panas, bumbu yang sedap –Sup Ayam Goreng, serta di temani dengan segelas jeruk panas. Apalagi waktu itu aku habis selesai berenang di salah satu Sport Center. Berolahraga renang selama satu jam setengah membuat cacing di perutku ini meronta-ronta minta jatah makan.

Aku pun langsung memesan makanan favoritku dan dengan selesainya aku memesan, mas-mas pelayan langsung dengan sigap dan tanggap menuju gerobak berisi bahan makanan yang akan diolah menjadi semangkuk sup yang enaknya luar biasa. Tidak beberapa lama pesananku hadir di hadapanku, alhamdulillah. Ternyata warung ini tidak seramai biasanya mungkin karena habis hujan kali ya, biasanya warung ini ramai pengunjung dan kalo memesan harus menunggu, tidak lama sih tetapi tidak seperti saat ini layaknya restoran fast food.

Ada satu hal yang berbeda dikala aku menyantap makanan lezat ini. Kehadiran seorang sahabat ku yang sudah seperti saudara sendiri. Biasanya kami selalu makan disini dikala sehabis renang ataupun sehabis futsal dan dia pula lah yang mengajakku kesini dan mengenalkan kepadaku bahwa sup inilah yang paling enak di seantero Kota Solo. Aku ingat betul dia selalu memesan sup ayam goreng tanpa nasi dan jeruk hangat tanpa gula. Kalian tahu, pelayan warung ini sampai heran dan baru pertama kali dia mendapat pesanan dari seorang pelanggan yang memesan jeruk hangat tanpa gula, seperti biasa sahabat ku menjawab dengan santainya “lagi diet mas”. Bukan hanya itu saja, sahabatku ini dengan brutalnya menghabiskan lauk yang ada di warung ini yaitu Tahu Bakso saking enaknya kata dia. Diet tapi makannya banyak.

Ini pertama kalinya aku makan disini tanpa kehadiran sosok sahabatku tersebut yang sudah kembali ke kota asalnya di Jakarta setelah empat tahun dia merantau ke Kota Solo untuk berjuang dibangku kuliah di UNS demi mendapatkan gelar Sarjana Hukum dan akhirnya dia sudah memperoleh apa yang diinginkannya tersebut.

Disaat kami makan bersama, sering kali setelah selesai makan kami ngobrol santai membicarakan hal random yang absurd, dan diantara banyaknya pembicaraan random tersebut ada satu topik yang memang hingga saat ini aku teringat betul akan pembicaraan kami. Kami membicarakan tentang cerita masa-masa setelah dia pulang ke kota asalnya nanti. Dia bercerita gimana nanti kalo dia udah di Jakarta, udah ga seperti biasanya lagi yang selalu makan sup berdua disini, yang selalu menemani dikala aku pulang kerumah sehabis futsal, renang, ataupun hangout bersama teman-teman lain karena aku harus mengantarkan dia kerumahnya terlebih dahulu yang kebetulan searah.

“kalo seandainya nanti elo kesini, ditempat ini sendiri, pasti elo inget hal-hal yang gue lakuin disini.”

“aku ga tau gimana kalo kamu udah disana sendiri.”

“sedih gue fan, disana pasti gue sendiri, ga ada tempat yang enak kaya di Solo gini, mau kemana-kemana deket, ga macet, mau kumpul tinggal berangkat 15 menit nyampe.”

Teringat pembicaraan itu semua, seakan membuat pikiran ku melayang jauh kembali ke masa lalu dimana di waktu yang sama kami sedang duduk santai menunggu makanan ini masuk ke dalam perut dan dengan cepat pula aku kembali tersadar bahwa ia sudah tidak berada disini lagi. Pembicaraan itu, akhirnya menjadi nyata, disini diwarung sup ayam goreng ini. Seakan kami adalah seorang fortune teller.

Setelah selesai makan, aku menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu café di Solo untuk menikmati teh sebelum aku benar-benar pulang kerumah. Sepertinya enak juga menikmati secangkir teh hangat dulu dikala habis hujan gini. Di café ini kami biasanya nongkrong bareng-bareng entah itu weekend ataupun weekday, kami selalu berjanjian untuk kumpul disini hanya untuk sekedar melepas peluh akan rutinitas perkuliahan. Di tempat ini pulalah kami pulang dengan perasaan senang karena celotehan, candaan bahkan ngebully masing-masing anak yang kumpul disini demi menghibur kami semua dan tidak ada rasa dendam karena memang kami tahu kalo ini hanya bercanda.

Secangkir teh hangat pun aku pesan dan segera tersaji di hadapanku. Perlahan aku seruput teh panas ini, diam-diam aku membayangkan hari-hari dimana aku bersama sahabat-sahabat ku sedang berkumpul disini dan sedang tertawa terbahak-bahak hingga saking senangnya kami sampai tidak menghiraukan pengunjung lain yang sedang ngeteh disini. Ada satu sahabat ku yang kebetulan memang dia seorang perantau juga tetapi kali ini dia berbeda, dia berasal dari Kota Bekasi. Dia sekarang sudah kembali ke kota asalnya setelah dia menyelesaikan kuliah nya di UNS yang pada akhirnya memperoleh gelar Sarjana Hukum.

Akhir-akhir ini kami jarang berkumpul disini lagi seperti dahulu, kayaknya memang sudah waktunya kami mengejar mimpi-mimpi kami untuk sebuah masa depan yang sukses. Apalagi terakhir kali kami berkumpul disini hanya sedikit yang datang dan satu orang sahabatku dari Bekasi tersebut juga tidak datang karena sudah tidak di Solo lagi.

Ahh aku jadi teringat logat Betawi nya yang khas dan suara nya yang lantang seperti seorang laki-laki. Aku teringat dia juga lah yang paling semangat datang jika kami kumpul di tempat ini, entah dia suka dengan teh nya ataupun dengan kami sahabatnya selama empat tahun di bangku kuliah. Pernah suatu hari dimana kami telah janjian di café ini untuk kumpul bareng dan setelah aku tiba di lokasi ternyata dia sudah menunggu kami disana sendirian.

Dia adalah sosok seseorang yang tangguh tetapi mempunyai hati yang sangat lembut. Pernah suatu ketika disaat kami sedang berkumpul untuk membuat video pendek grup traveler kami yang bernama The Natural Traveler, aku sadar bahwa sahabatku yang satu ini membuat aku terkagum akan kabaikan hatinya yang lembut. Aku tidak pernah lupa momen itu. Momen dimana pada saat itu kami mengambil scene tentang testimoni, komentar, dan kesan pesan selama kami ikut trip bersama grup tersebut.

Satu persatu berbicara didepan kamera hingga akhirnya tiba saat nya sahabatku tersebut berbicara didepan kamera. Ia berkomentar dengan mantab dan yakin dan memberi komentar yang positif akan grup ini. Tiba saatnya ia berbicara mengenai kesan dan pesan selama dia ikut trip bersama grup ini dan memberikan pesan kepada kami yang tergabung dalam grup ini.

“sangat berkesan banget, soalnya gue nemuin teman yang bener-bener kuat dan solid banget, bisa diajak have fun bareng.. pesan dari gue.. berhubung gue akan pergi (baca: pulang ke Bekasi) tetep solid jaga kebersamaan…..” meneteskan air mata.

“….”

“gue berharap kita bisa jalan-jalan lagi di lain waktu, bersama lagi.. ya pokoknya…” tak kuasa menahan haru.

“….”

“gue seneng banget berada di salah satu anggota TNT –The Natural Traveler.”

Semua yang disana terdiam dan menyaksikan dengan perasaan haru dan memang kata-kata tersebut membuat kami tidak rela sahabatku ini pulang ke kampung halamannya. Ia memang mencintai dan menyayangi kami sebagai seorang sahabat dengan ketulusan hatinya.

Jujur aku sekarang kangen dengan kalian berdua disana, dikota masing-masing. Entah apakah teman-temanku yang lain juga merasa hal demikian? Bagaimana keadaan kalian disana? mudah-mudahan selalu diberi kesehatan. Dimana kalian sekarang kalo nongkrong? Apa disana bisa seru-seruan seperti disini? Terus kalo… Ah dunia terlalu singkat untuk terus merindukan kalian.

Kalau ada sumur di ladang, Bolehlah kita menumpang mandi. Kalau ada umurku panjang, Bolehlah kita bertemu lagi.

Aku pun segera menghabiskan teh ku yang telah dingin karena angin malam dan nampak juga pusat perbelanjaan sudah mulai tutup serta lampu-lampu pusat perbelanjaan yang sudah mulai padam. Segera aku meninggal kan tempat ini, tempat yang memberikan waktu sejenak bagiku bahkan bagi kalian teman-temanku yang sedang membaca tulisan ini untuk mengenang masa-masa kita. Di tempat ini aku meninggalkan secangkir Intermezo dan segera pulang ke rumah.

Surakarta, 10 November 2013

Nb: untuk kedua sahabatku tercinta di Jakarta dan di Bekasi.

Transportation and Accomodation

MEMILIH model transportasi yang tepat adalah penting bagi traveler dengan biaya yang pas-pas an atau juga bagi Anda yang sedang backpacking. Moda transportasi mempengaruhi tiga hal: uang, kenyamanan, dan waktu. Ada 3 moda transportasi yang dapat digunakan, masing-masing moda transportasi dibagi mulai dari segi biaya, segi waktu dan segi kenyamanan.

  • Bus: Paling murah, Paling lambat, Paling minim.
  • Kereta: Menengah, Menengah, Cukup.
  • Pesawat domestik: Paling mahal, Paling cepat, Terbaik.

Semua digunakan berdasarkan kebutuhan masing-masing traveler.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, dalam travel, dua hal yang memakan waktu dan uang adalah:

  • Waktu tidur dan biaya inap.
  • Waktu perjalanan dan biaya transport.

Untuk menghemat waktu dan uang maka kita harus menggabungkan waktu/uang tidur dengan waktu/uang transportasi.

Trik termurah dan termudah dalam travel adalah memilih bus atau kereta yang berangkat paling malam dari kota A dan sampai ke kota B, pagi harinya. Dengan cara ini, Anda tidak perlu membuang uang untuk hotel, dan waktu tidak terbuang hanya untuk tidur karena sudah tergabung dengan waktu perjalanan. Cara ini cocok bagi mereka yang sering traveling dengan budget terbatas.

Surakarta, 24 Oktober 2013

LOMBOK NEVER ENDING JOURNEY

CHAPTER 4 – (Untold Story)

SEMAKIN kita berjalan ke arah timur, maka semakin keras sifat dan watak seseorang yang berada di daerah tersebut. Entah ini hanya perasaanku saja atau entah apalah itu namanya, tetapi ini memang benar-benar aku alami bersama dengan kawan-kawanku tentang kejadian tersebut yang membuat jantung ini berdebar-debar, dipenuhi rasa takut dan khawatir. Dibalik semua keindahan alam Pulau Lombok dan rasa kegembiraan kami, kami harus menghadapi beberapa masalah yang membuat wajah gembira ini berubah menjadi ketakutan. Setelah membaca cerita perjalanan kami di pulau Lombok, mungkin kalian mengira kami melakukan perjalanan ini tanpa hambatan sama sekali dan tanpa ada suatu kendala atau masalah apapun.

Eits, jangan salah, kami adalah para traveler dengan biaya yang pas-pasan yang artinya kami harus berlawanan dengan preman dan calo, entah preman terminal ataupun preman pelabuhan, demi mendapatkan transportasi yang murah dan aman. Berbeda jika kita hanya duduk di kursi pesawat dan tertidur di dalamnya terbang diatas ketinggian 3000 meter atau lebih, ketika membuka mata kita sudah sampai di tempat tujuan. Tidak ada preman, tidak ada calo, karena kita membeli tiket yang memang sudah pasti aman dari calo tanpa harus bernegosiasi terlebih dahulu. Kita bukan tipe traveler yang seperti itu, kami bisa saja menggunakan transportasi pesawat tetapi kami lebih memilih untuk melihat bagaimana kondisi Indonesia Timur bila dilihat lebih dekat, melihat Indonesia sesungguhnya dan sejujurnya, untuk melihat itulah kami harus turun ke jalanan dan mengalami kejadian di luar dugaan kami.

Disini akan aku ceritakan beberapa kejadian yang benar-benar membuat kami harus berpikir keras mencari jalan keluar. Disinilah kami diuji sebagai seorang traveler sejati yang harus menggunakan akal dan pikiran, bukan hanya sekedar bepergian saja.

Berangkat ke pulau Lombok, tidak ada masalah yang benar-benar harus berpikir keras, hanya saja kami harus bernegosiasi dengan beberapa calo terminal dan preman pelabuhan demi sebuah harga angkutan umum. Berbeda cerita ketika kami hendak meninggalkan Pulau Lombok, beberapa kejadian harus kami alami agar kami bisa pulang meninggalkan Pulau Lombok, disisi lain kami harus berpacu dengan waktu dan harus membagi waktu dengan benar supaya kami tidak ketinggalan kereta api yang sudah kami miliki tiketnya jauh-jauh hari. Ya, kami menggunakan kereta api dari Banyuwangi hingga tujuan akhir kami yaitu Surakarta, dan jadwal kereta kami pukul 6.30 WIB pagi, jadi kami harus membagi waktu entah gimana caranya kami bisa tiba di stasiun Banyuwangi sebelum pukul 6.30 WIB pagi. Terhambat di Pulau Lombok sehari saja kami bisa ketinggalan kereta api alhasil tidak bisa pulang ke rumah masing-masing.

Kejadian pertama kami alami di Pelabuhan Bangsal dimana kami sedang mencari angkutan umum untuk tujuan Pelabuhan Lembar, tetapi kami ingin transit dahulu di Senggigi untuk melihat sunset disana jadilah kita men-charter angkutan umum dengan bernegoisasi dengan preman di daerah situ. Kami bernegosiasi dengan salah satu preman disana, berbadan agak gemuk dengan perut yang  tambun, berkulit hitam kecoklatan, berambut keriting.

Dia menawarkan angkutan umum yang memang dapat menampung kami yang berjumlah 17 orang ditambah barang bawaan kami, ransel. Oke, kami sepakat untuk di carikan angkutan umum. Setelah menunggu akhirnya kendaraan datang dan kami segera menaruh ransel-ransel kami di atas kap mobil, setelah semua beres maka kami mulai masuk kedalam kendaraan satu persatu dan memposisikan tempat duduk secukup mungkin. Apa yang terjadi? Kami semua tidak bisa masuk ke dalam kendaraan tersebut alias tidak muat. Masih ada 4 orang lagi yang belum masuk ke dalam mobil. Kami pun bersikeras membatalkan kendaraan tersebut karena tidak sesuai dengan kondisi kami, tetapi si preman yang entah-siapa-namanya itu tetap ngotot supaya kami menggunakan kendaraan ini. Ya tidak bisa dong, kami memang membutuhkan kondisi yang benar-benar membuat kami nyaman semaksimal mungkin dengan biaya yang seminim mungkin.

Akhirnya, salah satu teman kami (Hangga) menelpon supir angkot yang kemarin telah mengantar kami dari penginapan di Cakranegara hingga Pelabuhan Bangsal. Karena kami tahu pasti bahwa kendaraan yang akan kami pakai nanti adalah kendaraan engkel colt diesel yang memang muat 17 orang beserta dengan ransel kami. Kami pun memberi uang kepada si preman untuk tanda pembatalan kendaraan yang telah dipanggilnya. Setelah lama menunggu, akhirnya kendaraan kami datang dan kami pun bergegas menaruh ransel kami di atas kap mobil dan kami segera masuk kedalam kendaraan. Setelah semuanya siap dan sudah duduk ditempat masing-masing kami pun siap berangkat dan mesin kendaraan diesel ini segera dinyalakan.

Disinilah konflik timbul antara si Preman tadi dengan Sopir engkel kami. Aku yang kebetulan duduk tepat dibelakang supir mendengarkan mereka beradu mulut, aku tidak paham mereka berkata apa karena mereka menggunakan bahasa sasak dan yang aku tahu si preman mengatakan kalimat angka “dua puluh lima ribu”. Kalian tahu? Yang membuat aku terperanjat adalah ketika si preman beradu mulut dengan si supir, preman tersebut menjulurkan tangannya masuk kedalam mobil melalui jendela pintu mobil dengan membawa silet cukur yang tipis yang ia keluarkannya dari bungkus rokok. What the ffuu.. yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah berdoa supaya tidak terjadi pertumpahan darah hanya gara-gara beradu mulut.

Si preman mengancam supir engkel dengan menggorok leher si supir tersebut. Yang membuat aku semakin terkejut adalah ketika si preman pindah ke pintu kiri kendaraan dan menjulurkan tangannya masuk kedalam mobil melalui jendela pintu mobil, dan  yang di samping tangannya adalah teman ku yaitu Martin dan Hangga yang duduk di depan samping supir engkel, kedua temanku tersebut tidak tahu bahwa preman tersebut memegang silet cukur ditangannya. Kedua temanku tidak menyadari akan hal itu, untungnya preman tadi kembali ke sisi kanan mobil dan melakukan hal serupa dan kali ini supir engkel kami memberikan uang Rp 5.000 kepada preman tadi dan segera menginjak gas dengan kecepatan penuh. This is really thrilling.

Setelah angkot berjalan menjauhi Pelabuhan Bangsal, kami pun bertanya kepada supir kami mengapa preman tersebut melakukan perbuatan seperti itu. Setelah supir menjelaskan kepada kami ternyata preman tadi minta jatah kepada si supir engkel karena masuk ke dalam wilayahnya dan minta uang bensin untuk angkot yang tidak jadi kami pakai tadi, padahal si preman tadi sudah kami kasih uang, masih aja dia minta kepada supir engkel kami.

..

Bukan hanya itu saja, masih ada yang lebih ekstrem lagi, masih di hari yang sama, kalo tadi itu sekitar jam 2 siang kejadiannya, dan kali ini masalah timbul lagi ketika sudah malam hari. Waktu itu kami bergegas meninggalkan Pantai Senggigi yang akan dilanjutkan menuju ke Pelabuhan Lembar. Perjalanan cukup jauh, memakan waktu 2 jam hingga sampai pelabuhan. Kegiatan yang tanpa henti dari pagi hingga malam membuat kami kecapekan dan beristirahat di dalam engkel, dan kami pun tertidur pulas.

Ya namanya engkel pasti suspensi tidak seempuk mobil alphard, suara berdecit karena besi tua yang menahan beban engkel beserta muatannya, membuat saya tidak bisa tertidur pulas. Telinga kadang mendengar sedikit beberapa percakapan antara Hangga dan Martin dengan supir engkel, ohh rupanya mereka belum tidur. Perlahan mata ini mulai memejamkan kelopak mata ku dan akhrinya tertidur lagi walaupun dengan suara berdecit dan goyangan engkel akibat jalan yang bergelombang dan berlubang.

Sesuatu hal mengejutkanku beserta teman-teman ku yang sedang tertidur, waktu itu pukul setengah sembilan malam. Engkel kami di paksa berhenti oleh beberapa orang tak dikenal dengan menggunakan sepeda motor. Setelah berhenti lalu datanglah beberapa rombongan kawan mereka dengan menggunakan sepeda motor juga, alhasil engkel kami layaknya gula yang sedang di kerumuni oleh beberapa semut. Sial, ternyata preman pelabuhan.

Di tengah kepanikan, supir kami dipaksa turun dan digantikan oleh salah satu kawanan preman tersebut. Yup, engkel kami dibajak. Engkel kami disupiri oleh salah satu anggota preman tersebut dan membawa kami ketempat yang sangat asing. Engkel kami di ikuti oleh kawanan preman pelabuhan dengan menggunakan sepeda motor. Terlihat supir engkel kami diboncengi oleh salah satu preman tersebut. Saat itu kami hanya bergantung pada satu, yaitu Allah SWT untuk meminta pertolongan dan keselamatan.

Kami menyusuri sebuah gang kecil yang hanya muat satu kendaraan roda empat. Gang ini tepat berada di samping Pelabuhan Lembar. Di sebelah tembok pembatas antara gang dengan pelabuhan terlihat kapal-kapal nelayan para pencari ikan yang sedang parkir dan di sebelah kiri kami terlihat rumah-rumah pemukiman para nelayan. Entah itu rumah nelayan ato rumah para preman tersebut.

Kami pun dipaksa turun setelah supir preman tadi menghentikan kendaraannya di depan sebuah pintu kecil. Nampaknya pintu tersebut memang sengaja dibuat sebagai pintu masuk ke dalam Pelabuhan Lembar. Pintu yang cukup dilewati oleh satu orang saja. Disinilah kami dipaksa membeli tiket kapal feri oleh beberapa preman tadi. Mau tidak mau akhirnya kami pun terpaksa menggunakan tiket tersebut total 17 orang.

Sebelumnya aku sudah bilang ke Martin untuk turun di luar pelabuhan, karena memang dari hasil browsing di internet menyebutkan bahwa di Pelabuhan Lembar kalo malem suka banyak preman. Tetapi, Martin yang sudah meminta untuk diturunkan di depan pelabuhan, supir kami yang dengan rasa percaya dirinya mau mengantar kan kami sampai ke dalam pelabuhan. Niat nya mau ngebantuin supaya turun di deket pintu masuk, eh malah yang ada kami kena preman calo pelabuhan.

Pikiranku melayang flashback dimana ketika aku sedang tertidur di dalam engkel. Ternyata apa yang Martin bicarakan dengan supir engkel kami ialah bahwa supir engkel kami memberi tahukan kalo di pelabuhan lembar memang banyak preman dan calo pelabuhan. Mereka menawarkan tiket feri dengan harga yang sama dengan tiket tiket yang resmi dari pelabuhan. Tiket dari preman tersebut  memang sama dan memang resmi dari ASDP Pelabuhan Lembar. Ini memang permainan orang dalam ato istilahnya kongkalikong, supaya tiket kapal feri tersebut laris dan pihak preman dapat komisi dari pihak ASDP Pelabuhan Lembar. Beberapa preman memang sudah mendapat jatah dari pihak ASDP Pelabuhan Lembar untuk melariskan tiket tersebut.

Hal tersebut meyakinkanku setelah aku mencoba bertanya lagi kepada salah seorang penjaga toliet di area pelabuhan, dan memang benar adanya apa yang di katakan oleh supir engkel kami.

Aku pikir cuma ada di Lombok, preman pelabuhan bisa seperti ini. Membajak engkel, membawa kami ke “sarang” nya, dan memaksa kami untuk membeli tiket kapal feri. Strategi preman pelabuhan yang jarang di temui di Pulau Jawa.

Satu kata untuk Lombok adalah ”Hardcore”.

..

Kamu tahu? Ini rasanya seperti menjadi para sandera di dalam pelabuhan dan menjadi tawanan para preman pelabuhan. Kita hanya bisa menunggu perintah dari salah seorang teman kami yang telah kami percayakan untuk mengatasi semua masalah ini dan mencari jalan keluarnya, karena kami memang saat itu tidak bisa keluar dari pelabuhan dan kami hanya bisa menunggu pasrah duduk di lantai keramik ruang tunggu di Pelabuhan Padang Bai, Bali.

Dan aku punya satu kalimat bagi kami pada saat itu, kami adalah “The Prisoner of Padang Bai”.

Let the story begin.

Waktu menunjukkan pukul 00.00 WITA dan kami tiba di Pelabuhan Padang Bai. Dengan perasaan penuh yakin, kami menuju ke mushola pelabuhan untuk beristirahat sekaligus menunggu jemputan angkot yang telah kami pesan tempo hari. Sialnya, mushola tersebut tutup karena pihak penjaga mushola tidak memperbolehkan traveler seperti kami ini beristirahat di sana. What the hell.

Tak apalah kami masih bisa beristirahat di ruang tunggu bersama dengan beberapa orang yang sudah tertidur lelap. Sepertinya mereka bukan traveler seperti kami, mereka hanya penduduk lokal biasa yang menunggu jadwal kapal.

Rio. Dia adalah salah satu teman kami yang menghandel masalah transportasi di Bali dari Padang Bai sampai dengan Gilimanuk. Dia yang mempunyai kontak supir bus yang telah kami sewa untuk menjemput kami di Padang Bai pukul 4 pagi. Disela-sela istirahat, aku melihat Rio berjalan mondar-mandir di depan ku dengan memegang sebuah telepo genggam yang ditempelkan di telinga kanannya seraya mulutnya berkomat-kamit sesuatu yang tidak bisa aku dengar. Ah.. paling dia sedang bernegoisasi melalui telepon genggamnya. Menunggu empat jam disini cukup membuat kami bosan, karena tidak ada apa-apa selain orang lain yang sedang tertidur pulas, para petugas loket pun juga sudah pulang, ada satu orang sekuriti yang juga tertidur lelap. Akhirnya kami pun juga beristirahat dengan beralaskan lantai keramik yang telah kami bersihkan dengan tangan tisu. Kami seperti kawanan homeless.

Something happened. Rio membangunkan kami semua dan dia mengatakan kepada kami bahwa bus kami tidak bisa menjemput kami di Pelabuhan Padang Bai. Hal tersebut terlalu beresiko apabila bus yang akan menjemput kami masuk ke dalam pelabuhan maka mereka akan dikenakan jatah preman pelabuhan disini, dan jumlah nya ga main-main. Mereka mengatakan bahwa kami nanti akan di jemput oleh beberapa mobil di suatu tempat tersembunyi –hanya Rio yang tahu, yang nanti selanjutnya kami diantar ke tempat bus kami menunggu.

Ternyata yang aku lihat Rio mondar-mandir, dia sedang mengatur strategi dengan supir bus, bagaimana cara agar kami bisa lolos dari preman pelabuhan di Padang Bai ini. supaya sama-sama enak, kami tidak membayar ongkos tambahan “jatah preman” dan supir bus juga tidak akan menaikkan ongkosnya karena dia juga dikenakan “jatah preman” pelabuhan disini. Bagi kami uang sepeser pun sangat berharga dan harus digunakan dengan sebaik mungkin supaya tidak habis percuma membayar sesuatu hal yang memang seharusnya tidak kami butuhkan.

Oke. Jemputan tiba pukul 4 pagi dengan menggunakan angkot yang artinya kami masih menunggu satu jam lagi. Rio menjelaskan bahwa kami harus keluar satu persatu dan nantinya dia akan memberitahu jalan keluar rahasia. Apabila kami ketahuan oleh preman tersebut maka semua strategi ini akan sia-sia. Satu jam kami mempersiapkan diri.

Waktunya penjemputan. Kami satu persatu diantar oleh Rio dan yang lain menunggu di ruang tunggu pelabuhan. Aku penasaran jalan keluar yang bagaimana yang digunakan Rio dan kawanan supir bus tersebut untuk menjemput kami? Satu persatu pun dipanggil Rio hingga akhirnya tiba giliranku.

Rio menginstruksikan bahwa aku harus berjalan ke sebuah tempat dimana warung-warung itu sudah tutup. Dengan mengiyakan maka aku pun berjalan dengan santainya ke lokasi warung-warung yang sudah tutup tersebut, tempatnya sangat gelap, jauh dari pengawasan petugas pelabuhan dan juga jauh dari pengawasan para preman pelabuhan. Setibanya disana, aku tidak melihat tanda-tanda semacam pintu keluar. SSssstttt.. SSssstt.. suara itu muncul entah darimana datangnya. Setelah aku menyimak sembari menoleh kesana kemari mencari sumber suara, ternyata itu suara Martin yang sedang memanggilku. Pintu keluar yang sangat sempit dan hanya cukup satu orang saja untuk bisa melewatinya. Untuk melewatinya aku harus memiringkan badan dengan menghadap ke kanan dan masuk berjalan menyamping ke kiri. Ups, dan tas ransel harus di keluarkan terlebih dahulu dari pintu ini.

Setelah berhasil keluar, ada 2 mobil yang sudah menunggu kami disana, ada satu angkot dan satu lagi mobil APV. Dengan sedikit berlari aku segera masuk ke dalam angkot. Nampaknya teman-teman ku yang sudah terlebh dahulu dipanggil Rio telah menunggu di dalam angkot tersebut. Intinya jangan panik dan jangan rempong. Traveler ala backpacker memang banyak menemui resiko di jalan, terminal, dan pelabuhan. Untungnya karena kami telah terbiasa berhadapan dengan resiko seperti itu maka kami menghadapinya dengan gugup tenang dan yakin bisa mengatasinya.

Semua dilakukan dengan kesabaran dan keberanian yang tinggi. Satu persatu kami masuk ke dalam mobil. Setelah semua masuk, kami berangkat menuju lokasi bus yang telah menunggu kami. Jaraknya dari Pelabuhan Padang Bai cukup jauh, bus kami menunggu di jalan lingkar selatan Bali.

Misi penyelamatan tawanan Pelabuhan Padang Bai berhasil dengan sempurna. Kalimat “The Prisoner of Padang Bai” kali ini sangat tepat sekali. Kami akhirnya bisa menghela nafas.

Traveler’s Note:

  1. Mencatat nomor telepon para supir angkutan umum di Lombok sangat berguna. Karena apabila kamu terdesak tidak dapat angkutan umum maka kamu bisa menelpon kontak yang telah kamu simpan tadi. Memang lebih enak rombongan ketimbang solo traveling.
  2. Jalinlah hubungan yang baik dengan para supir angkutan umum yang kamu pake misalnya ajakin dia ngobrol, cari tahu seputar kota yang kamu singgahi, dan juga para penduduknya, karena itu akan menguntungkan kamu pada saat kamu membutuhkannya, dan kamu tidak perlu bernegoisasi lagi.
  3. Tiket kapal feri dari preman pelabuhan sama dengan tiket resmi dari ASDP Pelabuhan Lembar. Rp 40.000/orang.
  4. Tiket kapal feri pemberian para preman harus Anda pegang terus sampai tiket tersebut diminta oleh petugas tiket kapal feri. JANGAN sampai tiket tersebut lepas dari tangan Anda apalagi diminta kembali oleh para preman tersebut. Apabila tiket tersebut diminta oleh para preman, carilah alasan supaya tiket bisa tetap ditangan Anda.
  5. Bawalah barang yang dapat digunakan untuk mempertahankan diri disaat emergensi, seperti pisau lipat, knuckle, papper spray, samurai (kalo punya) untuk yang backpacker. Kalo Anda traveling dengan menggunakan pesawat cukup papper spray.
  6. Tenang dan jangan panik.

nb: maaf ga ada foto, karena kamera SLR sudah masuk ke dalam tas ransel.

CERITA DI BULAN RAMADHAN

Marhaban ya Ramadhan,

Bulan yang penuh berkah akhirnya datang. Perasaan senang dan bersyukur pun tiba karena kita telah dipertemukan kembali di Bulan yang penuh berkah, penuh pengampunan. Aku sedang bersiap siap menuju ke masjid untuk menunaikan sholat taraweh yang pertama di bulan Ramadhan ini. Memakai sarung dan baju koko, dan tidak lupa Buku Amalan Ramadhan yang tiap tahun kami dapatkan disekolah kami. Aku belum paham mengapa aku diberi buku amalan ramadhan di tiap tahunnya, “yang penting bisa mendapat nilai agama bagus” itu yang ada di pikiranku.

Tidak lupa aku menjemput beberapa tetangga yang juga teman-teman ku di sekolah dasar. Kali ini aku di ajak oleh salah satu teman ku untuk bermain seusai sholat taraweh. Aku meng-Iya-kan ajakan dia dan yang lain pun setuju.

Usai bermain aku pulang ke rumah,

Esok harinya aku melakukan hal yang sama, sepulang taraweh aku selalu bermain dengan teman-temanku. Terkadang aku tidak genap taraweh delapan rakaat, aku sudah mengendap endap keluar masjid supaya tidak ketahuan oleh ibuku. Entah kenapa tiap malam aku habiskan selalu dengan bermain tiada hentinya. Keasyikan yang timbul aku nikmati hingga rasa bahagia terasa dalam diriku.

Hingga suatu saat, malam itu menjadi malam yang mengubah kebiasaan ku tiap malam hari di bulan Ramadhan.

Malam itu setelah sholat taraweh dan sepulang dari bermain dengan teman-teman, Sesampainya di dalam rumah ibu bertanya kepadaku,

“kok tadi Radit engga sholat witir di masjid?” tanya ibuku kepadaku.

Aku terdiam sejenak,

“iya, soalnya aku diajak main sama temen-temen buk”

“ibu tahu Radit selalu pergi sembunyi-sembunyi keluar masjid saat kultum di mulai dan Radit selalu bermain dengan teman-teman mu, apa Radit sudah mengisi Buku Amalan Ramadhan dari sekolah dengan tertib?” tanya ibuku.

“sudah bu, Radit sudah mengisi Buku Amalan Ramadhan, Radit selalu menitipkan buku sama teman yang masih ada di masjid.” Jawabku dengan polosnya.

“Radit tahu engga kalau sholat taraweh itu, walaupun sunah, sayang kalau kita tinggalkan. Ya memang kalau kita engga sholat taraweh kita tidak mendapatkan pahala apalagi mendapatkan dosa. Ibadah sunah itu adalah ibadah yang dapat menaikkan derajat kita di mata Allah SWT. Ya kalau Radit suka main game, ibaratnya ibadah sunah itu adalah bonus, laba, atau keuntungan atas ibadah wajib yang Radit lakukan seperti sholat lima waktu.” Jawab ibu menerangkan kepadaku.

“iya bu…” jawabku singkat.

“apalagi Radit kan sudah akhil baligh, Radit pasti mengerti dan paham kan ibadah wajib dan ibadah sunah itu seperti apa, ya kadang orang orang suka menganggap ibadah sunah bukan suatu ibadah yang penting untuk dilakukan, karena mereka menganggap tidak mendapat dosa kalau tidak dilakukan. Nah, sebaiknya Radit jangan mendengar kan ajakan setan yang ada di dalam dirimu untuk meninggalkan ibadah sunah, apalagi ini bulan Ramadhan.”

“tapi kan setan kalo di bulan Ramadhan mereka di penjara dan dibelenggu sama Allah SWT bu?” aku sedikit menyela penjelasan ibu.

“iya ibu tahu itu. Radit hapal surat An-Nas kan, coba kamu baca sekarang.” ibu bertanya kepadaku.

“iya, Radit hapal bu,

Bismilahirahmanirahim;

Qul Audu bi rabin nas;

Malikin nas;

Ilahin nas;

min syarrin was wasil kha nas;

alazi yuwaswisu fi sudurin nas

minal jinati wan nas.”

“nah, ibu beritahu artinya,

Sembahan manusia.

Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.

Dari (golongan) jin dan manusia.

Kesimpulannya adalah bahwa manusia diwajibkan untuk berlindung kepada Allah SWT dari sifat jahat yang bersembunyi dan membisikan suatu ajakan untuk berbuat jahat ke dalam manusia dari golongan jin dan manusia. Nah, coba Radit cermati ayat yang terakhir “minal jinati wan nas” dari golongan jin dan manusia. Jadi, walaupun setan dan jin di penjara oleh Allah SWT tetapi setan yang berbentuk manusia itu sendiri lah yang masih berkeliaran di dunia ini. Raditkan pasti pernah ada bisikan ajakan untuk bermain dengan teman-teman Radit nah itu setan yang ada di dalam diri kamu nak.”

“Ooo..” jawabku sambil mengangguk angguk.

“makanya Radit harus selalu berlindung kepada Allah SWT dari bisikan setan dengan terus beribadah meminta pertolongan dan perlindungan dari-Nya. Caranya? Ya dengan melakukan ibadah sunah.” Terang ibuku dengan sabarnya.

“iya bu, Radit mengerti selama ini Radit suka menyepele kan ibadah sunah.” Jawab ku tertunduk lemas.

“mumpung masih di bulan Ramadhan, perbanyaklah melakukan ibadah sampai nanti Idul Fitri. Coba Radit tengok masjid kita di hari pertama sholat taraweh, pasti rame dan penuh kan masjidnya? Sedangkan sekarang ini sudah memasuki hari ke sepuluh yang ketiga, yang artinya ini hari kesepuluh yang terakhir di bulan Ramadhan masjid sudah sepi dari jamaah yang sholat taraweh. Padahal di sepuluh hari yang terakhir, Allah SWT memberikan pengampunan kepada hamba-hambaNya. Kemarin ibu mendapat ilmu dari ustadz yang mengisi kultum taraweh, mungkin Radit sudah keluar masjid untuk bermain, nah ibu akan memberitahukannya kepada kamu, nak.

  • Hari kesepuluh pertama Allah SWT memberikan Rahmat Nya kepada hamba-hambaNya,
  • hari kesepuluh yang kedua maka Allah SWT memberikan maghfirah Nya kepada hamba-hambaNya,
  • dan sepuluh hari yang terakhir malam yang di dalamnya terdapat malam Lailatulqadar dimana dimalam tersebut kita mendapat kan pahala lebih baik dari 1000 bulan dan diampuni semua dosa-dosanya sehingga kita menjadi fitrah bersih dari dosa seperti kita terlahir kembali seperti bayi yang masih suci.

Kalau Radit masih bingung, anggap saja sepuluh hari pertama itu adalah babak penyisihan dalam game sepakbola yang sering Radit mainkan. Kemudian sepuluh hari yang kedua adalah babak perempat final dimana para pemain akan tersisih dan menyisakan pemain yang hebat untuk di babak final. Lalu, sepeuluh hari yang terakhir ialah babak final dimana hanya ada dua pemain yang memperebutkan juara, nah juara ini lah yang kita peroleh apabila kita mendapatkan malam Lailatulqadar. Kan sama kalau dibabak penyisihan banyak pemain-pemain yang bertanding ada belasan bahkan puluhan dan sedikit demi sedikit siring berjalannya hingga final makan pemain akan berkurang hingga terakhir dua pemain di babak final, ini sama hal nya dengan yang terjadi dimasjid kita, nak. Di awal sholat taraweh mereka semangat untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan maka masjid penuh jamaah, seiring berjalannya waktu masjid kita akan sepi dari jamaah karena mereka sudah tidak mengindahkan malam di bulan Ramadhan dan lebih mementingkan kesenangan duniawi seperti pergi ke Mall, belanja, bermain, menonton sinetron, dan lain sebagainya, pasti besok kalau sudah hari hari terakhir bulan Ramadhan pasti sepi masjid kita. Padahal sepuluh hari terakhir adalah malam yang paling penting dalam bulan Ramadhan karena kita bisa memperoleh juara di dalamnya. Nah, sekarang Radit sudah mengerti kan jadi alangkah baiknya kalau kita tetap mengindahkan tiap malam pada bulan Ramadhan.” Kata ibu kepadaku dengan senyum seorang ibu.

Ya, malam itu lah yang membuat aku berubah hingga saat ini. Setelah malam itu, seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar bahwa mengisi malam dengan ibadah atau dengan yang dinamakan dengan Qiyamulail pada saat bulan Ramadhan merupakan hal terindah dalam bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan. Yang namanya Sholat Taraweh hanya ada di bulan Ramadhan bukan di bulan lain. Aku sadar bahwa dahulu mengisi Buku Amalan Ramadhan merupakan cara guru kita melatih kita supaya tertib untuk tetap mengisi malam dengan beribadah yaitu sholat taraweh berjamaah hingga malam terakhir di bulan Ramadhan dan mendengarkan kultum dari pada ustadz sehingga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat disamping kita mendapatkan pahala. Dan rasa bahagia karena bermain dengan teman-teman adalah rasa bahagia yang sesaat (semu) bukan rasa bahagia atas rahmat dari Allah SWT.

“Karena dengan menjalankan ibadah sunah dan mengindahkan malam di bulan Ramadhan merupakan kebahagian yang sesungguhnya yang dapat kita peroleh di bulan Ramadhan.”

Sejak saat itu aku perlahan-lahan menertibkan jadwal sholat sunah di setiap bulan Ramadhan tiba. Hingga aku sadar kenapa orang-orang ada yang bersedih apabila bulan Ramadhan akan berakhir, karena mereka tahu bahwa mereka akan meninggalkan bulan yang sangat berkah nan indah akan pentingnya dan tepatnya untuk beribadah serta meminta pengampunan dari Allah SWT.

Hingga saat ini alhamdulillah aku masih tetap berusaha menjaga ibadah sunah tiap malam di bulan Ramadhan dan kali ini aku merasakan bahwa di bulan Ramadhan entah kenapa hati ini terasa tentram dan sejuk, dahulu tiap sore selalu TPA dan mendapat ta’jil sekarang tiap malam membaca Al-Quran bersama bapak-bapak di masjid, bermain petasan bersama teman-teman, bersepeda seusai sholat subuh di masjid hingga matahari terbit dan membuat tenggorokan kami haus, membeli ta’jil di luar, mengadakan buka bersama bersama teman-teman, merasakan makanan begitu nikmatnya walaupun hanya dengan segelas air putih dan kurma pada saat berbuka puasa, menyiapkan masakan pada saat sahur, menonton acara televisi pada saat sahur. Aahhh.. ingin rasanya aku tetap merasakan suasana seperti itu setiap hari.

Kali ini bulan Ramadhan akan berakhir, aku berharap semoga aku dipertemukan lagi dengan Bulan Ramadhan di tahun depan. Amin.

Menemukan Kearifan Lokal

Ditengah-tengah minggu Ujian Akhir Semester, aku mendapat sms berupa undangan untuk menghadiri acara Sadranan di rumah nya. Ternyata yang sms adalah teman SMA ku yang juga sesama traveler. Rasa penasaran itupun yang membuat aku meng-iya-kan ajakan tersebut. Kurang woles apalagi sih gue, di saat UAS masih aja sempet-sempetnya pergi traveling (lagi).

Sadranan??

Awalnya aku engga tahu apa itu Sadranan, dan yang terlintas pertama kali ketika mendengar kata Sadranan adalah nama sebuah pantai di kawasan Gunung Kidul, Wonosari, Yogyakarta. Setelah mendengar penjelasan dari teman ku yang bernama Fery ternyata aku salah besar men, maklum traveler kaya aku gini tau nya ya hanya nama pantai dan tempat wisata. Sadranan adalah sebuah tradisi di Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, dimana tradisi tersebut dilakukan tiap satu tahun sekali dan di saat menjelang Bulan Ramadhan. Kegiatan penduduk Desa Cepogo disini apabila merayakan Sadranan, di pagi hari mereka mengunjungi makam yang menurut aku makam tersebut merupakan makam leluhur mereka (kalo salah mohon koreksi ya) Setelah selesai berdoa, mereka segera mengambil beberapa makanan yang telah disediakan oleh para penduduk lainnya yang berasal dari desa yang sama, seperti prasmanan gitu, mereka membawa sebuah tempat bundar seperti tempat bakpao yang berisi makanan dan kue-kue kecil yang nantinya akan di bagikan kepada masyarakat yang berada di lokasi makam. Jadi, mereka pulang dari makam mambawa tas kresek berisi makanan yang telah diambilnya tadi. Kalo di Jawa Timur, dinamakan “berkat”, jadi di Jawa Timur apabila seseorang mempunyai suatu acara maka tamu undangan akan diberikan berupa makanan yang telah disusun dan ditata supaya mudah di bawa oleh si tamu, nah yang kaya gini mereka menyebutnya “gowo berkat” ato membawa berkat.

Setelah acara di makam selesai mereka selanjutnya menuju ke rumah para tetangga untuk bersilaturahmi dan menikmati hidangan yang telah di sediakan sebelumnya. Bisa dibilang ini seperti “Open House”. Bagi ku, di desa ini apabila Sadranan telah tiba, suasananya engga jauh beda dengan saat Lebaran. Persis para tetangga mengunjungi satu persatu rumah dan terkadang mereka hanya sekedar bersalaman saja dan kadang ada yang sampai menikmati makanan yang telah disediakan oleh si pemilik rumah. Animo masyarakat akan acara Sadranan di desa ini sangat kuat dan ini benar-benar suatu tradisi di Desa Cepogo.

Setelah aku bertanya-tanya lebih dalam lagi, ternyata filosofi dari Sadranan ini sendiri ialah bahwa seseorang yang mengadakan acara open house ini mereka berharap tamu yang datang sangat banyak, kenapa? Karena apabila tamu ini banyak yang datang, maka rejeki pun juga akan banyak dilimpahkan. Disamping itu, memberikan makanan berupa kue-kue waktu di makam tersebut menandakan bahwa mereka mewujudkan rasa syukurnya kepada Allah SWT akan hasil yang diperolehnya, baik itu berupa hasil panen sayuran, hasil ternak, dan penghasilan lain yang mereka peroleh selama setahun. Bagi ku, engga jauh berbeda dengan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Tengger di Pegunungan Bromo yang bernama “Kasada”. Kalo engga tahu apa itu Kasada, buka google ya.

image

image

image

foto oleh: Fery

Jadi mereka percaya akan keimanan agama islam  bahwa semakin kita banyak memberi maka semakin banyak pula kita mendapatkan rejek. Dalam islam hal ini sama dengan apa yang disebut “shodaqoh” (sedekah) jadi, mereka tidak takut apabila mereka memberikan sebanyak yang mereka mampu akan membuat mereka jatuh miskin, justru sebaliknya mereka akan mendapatkan balasan berupa rejeki yang tidak terduga kapan rejeki itu akan diperolehnya. Suatu kearifan lokal di desa ini.

Sama halnya ketika aku pergi di desa yang bernama Lambang Kuning di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Tetapi kali itu aku di undang ke acara resepsi saudara sepupu ku. Di acara tersebut sepupuku mengadakan acara ato orang lokal menyebutnya dengan sebutan “nduwe gawe”. Prinsipnya sama, sepupuku mengadakan open house dua hari di rumahnya, dan para tamu pun berdatangan dari pagi hingga malam hari. Siapa sangka bahwa acara ini pun dibantu oleh para tetangganya dengan sebutan “rewang” jadi mereka membantu memasak dengan menyediakan masakan terus menerus agar tidak kehabisan makanan, dan mereka melakukan nya dengan rasa suka rela bergotong royong, engga ada rasa lelah pun di mata mereka, mereka justru menikmati dan bersuka ria membantu bersama-sama kepada tetangga mereka yang mempunyai acara. Bagi tamu yang datang pun, mereka engga segan-segan memberi sumbangan berupa uang dan bahkan bagi yang kurang mampu mereka menyumbang beberapa makanan pokok seperti beras, gula, garam, minyak goreng, dan mie instan. Kalo di kota mana ada kita menjumpai acara resepsi pernikahan dengan menyumbang makanan pokok.

Yang menjadi kearifan lokal menurut observasi ku di sini yaitu, mereka sangat menghargai apa itu yang namanya makanan. Mereka yang berdatangan, para tamu-tamu, tiap kali mereka mengambil makanan di piring nya, mereka akan menghabiskannya tanpa sisa di piring mereka. Mereka tahu betul akan berharganya makanan yang mereka santap tiap hari. Sebuah makanan pokok yang didapatkannya dengan bekerja keras membanting tulang demi sesuap nasi. Berbeda dengan orang-orang konglomerat di kota besar. Pasti di tiap acara resepsi pernikahan yang menyediakan makanan prasmanan ato standing party maka banyak dari mereka menyisakan makananannya, tidak ada rasa menghargai pun dari tiap makanan yang disantapnya.

Menemukan nilai-nilai kearifan lokal bisa kita temukan apabila kita mau melihat lebih dalam dan lebih luas dari sebelumnya. Banyak yang kita dapat apabila kita mau mempelajari nilai teladan, dan nilai budi pekerti yang mereka peroleh turun temurun dari para nenek moyang mereka dan mereka pertahankan nilai itu dari perkembangan zaman saat ini.

Akhirnya, tak perlu berlama-lama lagi ngobrolnya, aku pun segera menyantap makanan yang telah disediakan oleh teman ku ini. Ini moment yang aku tunggu-tunggu, makan enak hasil masakan mbok-mbok, dan yang penting gratiiisssss..

Surakarta, 25 Juni 2013

Keindahan Telaga Pelipur Lara

Pagi itu, ketika aku memiliki sebuah rencana yang telah aku susun jauh jauh hari demi wanita yang diharapkan hanya untuk membuat si wanita ini terkesan dan nyaman, bukan hanya untuk aku saja tetapi aku sudah mempersiapkan untuk dia yang aku harapkan. Persiapan yang sangat detil telah aku persiapkan sebelumnya mulai dari topik pembicaraan, makanan, kuliah, tempat hangout, dan banyak lagi, ya aku melakukannya agar tidak terlihat kaku dan bisa membuatnya nyaman.

Siapa sangka, pada waktu yang telah direncanakan dia tidak bisa menepati janji dalam rencana yang aku susun sebelumnya. Aku bingung kenapa mereka tidak bisa melihat hal se-simple itu, walaupun hanya ingin mengajaknya makan bersama, tetapi dibalik semua itu ada sebuah perjuangan yang aku lakukan untuk membuatnya nyaman kepadaku. Ya, aku tahu kalo dia memang kurang nyaman denganku tetapi ini lah sedikit hal yang bisa aku lakukan untuk membuat dia merasa nyaman.

But, the show must go on.

Karena di dalam darah kita mengalir jiwa seorang traveler, maka kami memutuskan untuk melupakan rasa kekecewaan kami dengan cara bertraveling. Aku yang pada waktu itu bersama sahabat ku yang juga anggota The Natural Traveler bernama Hangga mempunyai ide spontanitas langsung dengan mendadak pergi ke daerah tempat makan yang tidak ada duanya di kota solo ini. “Daripada kebuang sia sia waktu ini, kita cus yuk, makan di Ndoro Donker, Kemuning”, kata ku kepada Hangga. Hangga yang belum pernah sama sekali ketempat itu, dengan spontannya tanpa rasa ragu ragu dia berkata “Cus lahhh..!!”. Ini yang kami suka, ketika disetiap rencana yang telah kami susun sebelumnya atau bahkan rencana yang sangat mendadak pun, kami langsung berangkat tanpa ribet dan rempong sedikit pun. Aku yakin apa yang aku lakukan saat itu tidak akan mengecewakan, dan bakalan ada hal hal menarik diluar dugaan yang bisa membuat hati yang kecewa ini bisa terobati.

Ternyata keindahan alam perjalanan pun juga sangat menakjubkan. Disaat dalam perjalanan menuju rumah makan Ndoro Donker, di depan kami persis seperti tembok raksasa, berdiri tegak, tinggi, dengan warna hijau di permukaannya. Gunung Lawu berada di depan kami dengan puncaknya yang nampak jelas tanpa tertutup awan sedikit pun. Ternyata Gunung Lawu yang selama ini tertutup oleh awan akan terlihat indah apabila tidak ada awan yang menutupinya. Coba saja kalo di puncaknya itu ada lapisan es abadi, pasti sudah seperti gunung di Switzerland (lebay dikit boleh donk). Tapi memang bener kok, memang pemandangan yang subhanallah banget. Jalanan yang dilalui masih sepi karena tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Enaknya kalo pergi traveling pada saat tidak weekend ya kayak gini ini, jalanan sepi, tidak banyak mobil, truk, bis, apalagi sepeda motor, semua masih pada sekolah dan bekerja. Jadi bisa menikmati pemandangan sambil sesekali berhenti di pinggir jalan untuk mengambil foto pemandangan. Dan rasa kecewaku sedikit mulai menghilang.

Setelah menempuh perjalanan yang berliku liku, berkelok kelok, akhirnya kami sampai di rumah makan Ndoro Donker yang berada di daerah Kemuning. Hangga yang baru pertama kali kesini langsung terkesima sembari ngiler melihat konsep dari rumah makan ini. Sebenernya ini bukan rumah makan melainkan adalah Rumah Teh, kenapa begitu, karena pada awalnya tempat ini adalah semacam café yang menyediakan aneka minuman teh, mulai dari teh hitam, teh hijau, sampai ada yang namanya teh oolong. Semakin banyaknya pengunjung yang datang kesini maka si pemilik restoran ini tidak diam saja, lalu mereka menambahkan menu makanan dari mekanan pembuka, makanan utama, sampai makanan penutup. Konsep dari rumah teh ini adalah rumah kuno ala Tempoe Doeloe, dengan furnitur serba antik di interiornya, dan dihalamannya adalah tempat favorit para costumers, terdapat beberapa meja dengan payung  supaya pengunjung bisa menikmati hidangan dan secangkir minuman teh asli dari Kebun Teh kemuning dengan pemandangan bukit Kebun Teh Kemuning serta kota Karanganyar dibawahnya. Ditempat ini dijamin kalian tidak akan pergi beranjak dari tempat duduk anda. Setelah makan maka kalian akan merasa ingin berlama lama di sini. Aku rasa tempat ini telah menyihir kami supaya kami tidak pergi dari tempat ini. Bagaimana tidak, perut kenyang, pemandangan alam yang menyejukkan mata, mendengar suara kicauan burung, angin segar sepoi sepoi, udara yang sejuk tanpa polusi dan ditemani secangkir teh hangat. Rekomendasi ku apabila kalian pergi ketempat ini maka pesanlah Soup Iga dan Kare Ayam. Bumbu Soup Iga nya menggunakan rempah rempah asli sehingga rasanya sangat kuat dan bakalan nagih dan nagih. Kare Ayam nya juga tidak kalah, kuah kare kental kare nya mengundang selera supaya lidah ini dimanjakan dengan beberapa racikan bumbunya yang khas asli dari Ndoro Donker. By the way, ngomongin makanan penulis jadi lapar nih.

image

image

image

image

image

Tidak hanya pemandangan alam saja yang mengindahkan pandangan kami tetapi ada sekelompok wanita wanita hijabers yang sedang asyik bersendau gurau bersama dengan kawan kawannya. Duh, tambah bikin adem pemandangan aja.

Setelah selesai makan, kami bingung mau kemana kami selanjutnya, mau balik Solo nanggung masih siang, pasti udara panas, jadi kami putuskan untuk woles woles dulu disini, sambil menikmati pemandangan alam Kebun Teh Kemuning. Tiba tiba Hangga berbicara kepadaku, “pengen sate kelinci nih, disini yang deket dimana ya?”. “Tawangmangu sih kalo dari sini”, jawabku. Tumben sekali Hangga pengen sate kelinci, biasa nya dia engga mau makan sate kelinci karena menurut dia kelinci adalah hewan yang lucu, tidak sepantasnya hewan tersebut disate. Entah mengapa kali ini dia ingin sekali sate kelinci. “pokoknya aku pengen tega makan sate kelinci”, ungkap nya. “hahaha dasar alay”, kataku dalam hati.

Awalnya kami semangat untuk pergi ke Tawangmangu, tetapi entah mengapa Semesta tidak mengijinkan kami untuk pergi kesana malahan membimbing setir mobil kami untuk terus naik keatas sampai Cemoro Kandang. Di Cemoro Kandang kami beristirahat sebentar sambil menunggu mesin mobil kami dingin. Eh, lha kok disini si Hangga malah kebelet boker. Barusan makan makanan enak di Ndoro Dongker langsung dikeluarkan. Setelah selesai boker, tiba tiba perutku juga mules dan akhirnya aku juga ikut ikutan boker membuang hajat besar. Sudah sampai sini aku langsung dengan spontan nya mengajak ke Telaga Sarangan. Sebuah telaga di kabupaten Magetan, provinsi Jawa Timur. Wooww, kami sudah ada di Jawa Timur (lebay).

Perjalanan ke Telaga Sarangan kami di sambut oleh semesta alam kabut halus yang mengurangi jarak pandangan kami. Jalanan sepi, kadang berseliweran truk pengangkut sayur, sepeda motor, jalanan berkelok kelok dengan pemandangan di kanan kiri pohon pinus yang menjulang tinggi. Pemandangan menjadi sangat apik ketika ada kabut yang menghadang kami. Ternyata jalanan di pegunungan di Indonesia kalo sepi itu sangat bagus pemandangannya, kami tidak berhenti mengambil gambar melalui kamera ponsel kami, setelah kami melihat hasilnya, ternyata hasil foto seperti berada di luar negeri, seperti jalanan di pegunungan di China yang mau ke kuil Shaolin untuk belajar KungFu #apasih. Memasuki ke dalam kabut seakan rasa kekecewaanku tadi pagi membuat sedikit demi sedikit berkurang, suasana yang sepi, sunyi, dan hening membuat hati ini merasa dekat dengan Sang Maha Pencipta. Menghirup nafas dalam dalam merasakan nikmat nya udara pegunungan yang bersih dan segar, mendengar suara kumbang gunung yang khas, sejenak memejamkan mata dan mengucap di dalam hati Alhamdulillah.

image

image

image

image

image

image

image

Kami tiba di Telaga Sarangan, tidak begitu rame, hanya beberapa kios penjual pernak pernik yang masih buka. Beberapa orang menawarkan jasa berkuda mengelilingi Telaga Sarangan ini, menawarkan jasa kapal Speed Boat, dan menawarkan penginapan. Di sekeliling telaga banyak sekali penginapan bagi pelancong yang ingin menginap disini. Di tepi telaga, banyak sekali penjual sate kelinci, sate ayam, bakso, dan jagung bakar. Tidak perlu berlama lama lagi, kami segera memarkir mobil dan segera menyantap sate kelinci. Akhirnya, setelah sekian lama Hangga tidak makan sate kelinci, dia makan dengan lahapnya dan menghabiskan nya tanpa sisa sampai bumbu kacang nya juga di habiskan sampai piring itu terlihat bersih. Gile lu ndro.. Kami berada di ketinggian 1287 mdpl, air telaga nampak penuh karena diguyur hujan. Nampak sesekali kapal speed boat melaju kencang melewati kami yang berada di pinggir telaga.

Ada seorang bapak bapak yang menawari kami untuk naik kapal speed boat ini. “Woles dulu pak, makan sate dulu biar punya tenaga” kata Hangga kepada bapaknya. Setelah beberapa lama kami makan dan mengabiskan sate tersebut, bapak tadi menawarkan lagi kepada kami. “Biar turun dulu ini makanan, santai santai dulu sambil melihat pemandangan telaga” kata hangga menjawab tawaran bapaknya. Setelah selesai makan dan kami pun santai santai sembari mengobrol ringan, menikmati pemandangan, bertanya kepada salah satu pemancing ikan disini yang katanya disini terdapat ikan nila dan lele, yang tidak kecil namun gedenya bisa sampai 17 kg, pantes banyak sekali warga sekitar yang memancing disini. Di sela sela perbincangan kami, tampak seorang bapak tua yang naik ke salah satu speed boat nya dan segera memindahkan speed boat nya ketempat lain di sisi telaga ini, ternyata bapak tersebut adalah bapak bapak yang menawari kami jasa kapal speed boat nya, hhahaha si bapak sudah menyerah kami jahilin, si bapak yang sudah menunggu selama 2 jam, yang sudah kehilangan pelanggan ya mungkin sekitar 2 – 3 pelanggan yang sudah di ambil oleh teman teman nya sesama pemilik kapal. Dasar emang Hangga ini usil sekali orangnya, kalo engga mau naik kapal ya langsung saja bilang ke bapaknya “engga pak, kami engga punya duit” gitu, bukannya malah di PHP in, kalo gitu kan bapaknya bisa nyari pelanggan lain, bukannya malah menunggu kami beli sate kelinci, menunggu kami makan sate kelinci, dan menunggu kami ngobrol nunggu makanan ini turun. Maaf ya pak. Hahaha.

image

image

Akhirnya rasa kekecewaan ku hilang karena keindahan telaga ini, pantas bagi ku untuk di sebut Telaga Pelipur Lara. Alam memang menyuguhkan keindahannya untuk bisa kita nikmati dan melupakan semua masalah yang ada di dunia ini. Alam memang sangat murah untuk kita nikmati sebagai penyembuh pikiran dan hati yang lagi galau. Tidak perlu mencari pengobatan alternatif atau terapi yang bermacam macam tetapi hanya dengan menikmati keindahan alam di dunia ini semua akan terobati. Induksi dan kekuatan alam memang besar nya tidak terkira. Bayangkan aja kalo di dunia ini tidak ada keindahan alam yang bisa kita nikmati, hidup akan penuh dengan stress, emosi, dan tidak bersemangat. Memang keindahan alam harus kita jaga dan lestarikan. Indonesia salah satu nya, alamnya yang sangat indah dari Sabang sampai Merauke bisa kita nikmati dan jelajahi. Indonesia memang benar benar surga dunia, semua ada disana, dan aku bangga menjadi warga Indonesia.

Nature is cheaper than therapy

Kami pulang dengan perasaan yang gembira. Banyak sekali momen yang kami dapatkan. Hari ini merupakan hari yang berkualitas. Memanfaatkan hari libur kuliah dengan ber traveling dan menemukan hal hal baru di dalamnya merupakan aktivitas yang sangat seru dan menarik ketimbang hanya berdiam diri dirumah dan hanya memegang sebuah gadget kecil yang memiliki tombol tombol kecil seraya berkutat dengan social media.

See you at our next amazing journey.

Surakarta, 16 Mei 2013

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video