04. [ACI 2011] Bandara Internasional Lombok

- 28 Oktober 2012 -

Mata terpejam di atas tanah Jawa, dan baru terbuka setelah menginjak tanah Sasaq. Lombok selalunya dianak tirikan setelah Bali. Bertahun-tahun menatap tetangganya ramai dipuja sebagai surga. Walau dirinya tak pernah dalam sedetikpun lebih buruk dari tetangganya itu. Lebih baik malah bukan mustahil. Pantai, gunung, air terjun, danau, kuliner, budaya, sebutlah dan ia telah hadir lama disana. Bingkasannya mungkin tidak secantik Bali. Tapi rasa tidak akan berbohong. Syukur kami paham akan ini.

Pesawat menapakkan roda pertamanya dengan disambut oleh landasan muda yang belum lagi sebulan beroperasi. Setiap jengkal permukaannya masih mulus licin terawat, ia katanya baru mulai bertugas tanggal 1 Oktober 2011 kemarin. Rem dan sayap pesawat kali ini harus bekerja sama memperlambat laju pesawat. Lintasan bukannya panjang tak berbatas. Perlahan badan pesawat mendekati gedung utama dari Bandara Internasional Lombok (BIL). BIL tampak modern dan megah, pantas kalau disebut kebanggaan masyarakat Lombok. Ukurannya sendiri memang tidak terlalu besar tapi itu mungkin memang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Terlihat sewaktu masih di atas tadi kalau sekitarannya itu masih kosong. Pasti ia juga sudah bersiap diri untuk melayani lonjakan trafik penerbangan di masa depan. Satu yang disayangkan, depan perkarangannya ramai luar biasa sepertipasar. Ia sejatinya merupakan bandara internasional, wajah dari Lombok yang wajib aturannya untuk tampil cantik demi menggugah selera pengunjungnya, terutama mereka yang pertama kali datang. Kalau datang-datang disambut pasar siapa juga yang percaya Lombok itu indah.

Kami turun kemudian masuk ke dalam terminal. Dari luar ia nampak indah. Namun di dalam menyisakan risau yang amat mengiris. Bandara Internasional Lombok tidak berkarakter. Tidak ada sedikitpun filosofi lokal yang diikut sertakan dalam desainnya. Segalanya bernafaskan modern dan industrialis. Bangunan didominasi kaca dan besi stainless dan itu saja. Memang memberi kesan megah tapi ini bagus yang mengecewakan. 

Masing-masing mengambil carrier, menyelempangkan daypack dan siap keluar dari bandara. Sesuai rencana kami seharusnya dijemput oleh Bang Opik di pintu depan. Beliau adalah pendamping kami yang sudah diperkenalkan panitia sebelumnya. Pendamping nantinya akan terus bersama kami selama ekspedisi Nusa Tenggara Barat berlangsung. Sesuai kabar beliau orang asli Mataram yang sudah paham segala seluk beluk Lombok. Lumayanlah kalau memang benar demikian.

Keluar dari pintu, masih belum terlalu jauh dari kerumunan, kami dihampiri 2 orang, satu lelaki dan satu perempuan. Yang laki memperkenalkan diri sebagai Opik dan yang satunya Sophie. Sophie? Siapa Sophie? Sayang ini bukan waktunya untuk menginterogasi.

Kami terus berjalan dipandu Bang Opik ke tempat hentian mobil. Usut punya usut Bang Opik ternyata sudah mengambil keputusan untuk setidaknya dua hari pertama ini menggunakan mobil sewaan. Dalam pikirannya mungkin dia sekedar berusaha mempermudah perjalan. Tapi perencanaan terasa sangat dipaksakan. Sesaat sebelum mobil sewaan datang kami memaksakan satu hal kepada mereka. Mencari makan siang sambil melakukan briefing awal. Ini petualangan kami bukan mereka, artinya yang menentukan adalah kami. Semuanya harus berhenti, diperjelas, disetujui baru ikhlas kami memulai petualangan.

05. [ACI 2011] Membangun Kepercayaan

- 28 Oktober 2012 -

Situasi di dalam mobil terasa canggung. Disatu sisi kami tidak percaya dengan Bang Opik dan temannya Mbak Sophie apalagi si supir, tapi disisi lain kami sudah duduk di dalam mobil. Kemana melangkah selanjutnya sudah sepenuhnya menjadi kehendak mereka. Bang Opik menyarankan agar mobil langsung diarahkan ke daerah Kuta, Lombok Selatan. Nanti sepanjang perjalanan baru mencari tempat makan untuk berhenti. Kiranya dia belum lupa juga dengan permintaan kami tadi. Sayangnya kami tidak punya pilihan lain selain menyetujui rencananya untuk sementara.

Dari bandara kendaraan terus melaju ke arah Lombok Selatan. Ia baru berhenti setelah beberapa ratus meter melewati Desa Sade, Lombok Tengah. Desa Sade merupakan salah satu desa adat suku Sasaq di Lombok yang telah dirombak menjadi desa wisata. Ia memang berada di dalam daftar jadwal perjalanan kami, tapi nyatanya Bang Opik menganjurkan untuk mengunjungi Pantai Kuta terlebih dahulu. Nanti baru akan menghampiri Desa Sade setelah kembali dari Pantai Kuta. Tentunya dengan beliau yang jauh lebih mengetahui medan dan belumnya ada briefing awal, sekali lagi kami tidak punya banyak pilihan selain menurut. Mobil diketepikan di sebuah warung sederhana, persis di pinggir jalan raya Praya-Kuta.

Tiada yang terlalu spesial dari warung ini. Tembok dan atapnya memang masih tradisional dari bambu dan anyaman tapi lantainya sudah bersemen lapis tegel biru muda. Kami memesan nasi campur dan air mineral sekedar mengganjal perut yang sudah meronta sejak tadi. Kemudian memulai pembicaraan dengan Bang Opik dan Mbak Sophie. Singkat cerita kedua belah pihak akhirnya setuju akan beberapa hal menyangkut pengaturan keuangan, rencana perjalanan, mode transportasi, dan ekspektasi tempat penginapan. Untuk sisa perjalanan kami sepakat untuk terus menggunakan mobil sewaan. Ia memang satu-satunya cara untuk dapat menjelajahi pelosok-pelosok dari Nusa Tenggara bagian Barat ini.

Keterbukaan menguak pintu kepercayaan. Kami kembali ke dalam mobil dengan suasana yang sama sekali berbeda. Bersemangat dan bergairah. Tidak sabar melihat suguhan alam Lombok yang dikatakan jauh melebihi tetangganya. Lombok masih perawan, jarang tersentuh, dan tidak ternoda. Kami berdebar menunggu.

14. [ACI 2011] Tiu Teja

Pagi menyapa Santong Mulia. Matahari ternyata belum melupakan kami, ia masih setia. Lebih dari itu, ia masih semangat memimpin. Perlahan menyelinap masuk dari sela-sela jendela, menampar muka cetakan bantal ini. Hari sudah pagi. Kehidupan sudah dimulai.

Kami mengawali pagi dengan ritual kopi seperti biasanya. Hari ini ritual kopi ditemani oleh sang sahabat karib. Pisang Goreng. Cukup, tidak ada yang perlu dikomentari lagi darinya. Senang rasanya pagi ini kami ada alasan untuk tidak perlu mandi. Selepas ritual kopi kami akan singgah di salah satu hidden paradise nya Lombok Utara, Air Terjun Tiu Teja. Hasrat untuk tidak mandi pagi juga didukung oleh Bang Opik dan Mbak Sophie. Mereka bercerita konon siapapun yang datang ke Tiu Teja harus mandi disana. Jika tidak, maka akan ada kekuatan lain yang menarik kami untuk kembali kesana untuk kesekian kalinya. Bagus lah. Mandi disana saja kalau begitu.

Kami berlekas kemudian mengarahkan mobil. Patokan menuju Tiu Teja tidak jelas, andalan kami disini hanya teman-teman dari Gabungan Pencinta Alam (GPA) Santong. Mereka tahu betul area ini. Mereka juga yang memperkenalkan Tiu Teja ke publik balik sejak tahun 2000-2001 yang lalu. Satu-satunya petunjuk yang jelas adalah Bendungan Santong. Tiu Teja dapat diakses dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit dari Bendungan Santong terus masuk ke dalam hutan. Sungguh kami tidak menyarankan untuk mencari arahnya sendiri. Teman-teman GPA Santong pasti lebih dari rela mengantarkan. Atau setidaknya tanyakan ke penduduk setempat mengenai arah.

Kami menyusur kurang lebih 3 sampai 4 sungai-sungai kecil, yang pasti merupakan limpahan berkah dari Tiu Teja. Sama dengan air terjun lainnya, ia sering kali menjadi sumber kehidupan bagi siapapun yang dilaluinya. Kami terus memotong jalan-jalan hutan. Cukup banyak longsoran di kiri dan kanan jalur. Pasir menggunung layaknya bukit. Bukan bukit hijau, tapi lebih mirip bekas letusan gunung berapi. Hanya saja ia berada di lembah. Batu dan pasirnya berceceran tak karuan. Menjulang terjal lebih dari 45 derajat ke bibir-bibir tebing. Entah apa penyebabnya. Tapi cukup mengiris hati melihat keasrian hutan ini terkikis. Tersangkaku pasti ulah manusia. Pembangunan bendungan jarang berakibat baik pada sekitarannya, kecuali untuk manusia sendiri.

Setelah kemarin menyapa Sendang Gila, kami berasumsi Tiu Teja mungkin tidak jauh beda. Memang menilai segala sesuatu dari namanya saja adalah suatu kebodohan besar, dan benar saja, hari ini kami salah besar. Tiu Teja patut jika disebut hidden paradise. Lokasinya yang tersembunyi membuat dirinya jauh lebih terawat. Bukan oleh manusia tentunya, sebab yang satu ini lagi-lagi cuma pembawa sampah. Tapi isolasi benar-benar memperbolehkan sang ibu pertiwi untuk terus bersolek. Menutup yang mati dan menggantikannya dengan yang baru. Terus menerus hingga sempurna. Tinggi Tiu Teja kurang lebih sekitar 40 meter vertikal. Dasarnya membentuk kolam. Memanggil kami untuk segera menceburkan diri. Tepiannya berwarna hijau pekat. Penuh dari dasar hingga pucuk tebing. Lumut-lumut tumbuh subur dari percikan uap air Tiu Teja. Kami pun tidak sabar tenggelam dalam Tiu Teja. Sungguh kesegaran tak terkira. Tidak sia-sia memang. Dingin urusan kedua. Kami terus bermain bak anak berang-berang yang baru bisa berenang. Masuk ke dalam air, sebentar saja sudah keluar lagi. Bertengger pada batu kali sebelum sekali lagi lari dalam air. Naik ke permukaan hanya setelah diumpan dengan kudapan. Awal yang luar biasa untuk memulai hari!

10. [ACI 2011] Menuju Senaru

- 29 Oktober 2012 -

Jalur menuju Senaru ada dua. Pertama dengan menyisir pantai Utara dan yang kedua melalui jalur tengah Pulau Lombok. Siang ini kami meluncur menyisir pantai Utara. Sisi ini dimulai selepas Sengigi dan Pelabuhan Bangsal ke arah Timur, jauh dari kesan wisata. Sepanjang nafas kami disuguhkan dengan jalanan meliuk masuk ke daratan yang tidak lama kemudian balik ke tepian pantai untuk seterusnya berulang.

Siang itu waktu sudah memprovokasi cacing-cacing dalam perut kami. Beruntung tidak lama berselang, kami memasuki Kabupaten Lombok Utara, yang merupakan kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2008 kemarin. Kami berhenti di ibukota kabupaten Lombok Utara, Tanjung, untuk sekedar menenangkan bunyi-bunyian dari perut.

Kendaraan menepi dan kami turun di Bioskop. Bioskop di Tanjung bukan gedung tempat penayangan film. Bioskop adalah nama jalan. Letaknya berdekatan dengan pasar kota. Persis di jalan raya utama. Pertigaan berpatokan pada toko alat tulis. Sasaran kami adalah yang berada di depannya. Satu gerobak biru dan panggangan berkaki empat. Rodanya memaku sementara inaq-nya terus bermain dengan kipas. Kawannya duduk menghadap ember besar. Bersenjatakan tusukan bambu berratus-ratus. Bara terus dijaga selagi sekumpulan orang lainnya mengerubuti sang gerobak. Ini adalah Sate Ikan Tanjung.

Sate ikan khas Lombok memang sedap bukan kepalang. Kami lahap luar biasa meski tanpa nasi. Kombinasi sate ikan yang lembut, dengan keasinan dan tingkat kepedasan yang pas berpadu dengan otak-otak memang penawar cacing perut yang sempurna. Puas memenuhi rasa lapar kami melanjutkan perjalanan. Jarak ke Senaru masih jauh.

09. [ACI 2011] Senggigi dan Jalannya menuju Senaru

- 29 Oktober 2012 -

Jauh dari rutinitas bukan berarti tanpa alarm pagi. Hari ini Lombok terjaga cukup cepat, belum lama kami beranjak lepas dari ranjang, nasi puyung sudah teteriakan di depan kamar. Seenggan-enggannya menjawab, pesona nasi puyung masih terlalu kuat untuk diabaikan. Bapak yang pertama berlalu dengan nasi bungkusnya begitu saja. Menyesal namun belajar. Mantap dengan perut kosong dan mata sepet bapak penjual nasi puyung kedua tidak akan lepas, tidak boleh lepas. Lima menit kemudian tidak lebih, tiga bungkus nasi puyung berhasil duduk manis di atas meja depan kamar. Dijodohkan rapi bersebelah-sebelahan dengan ketiga gelas kosong dan secerek kopi panas yang sudah lebih dulu menunggu. Ini yang menyenangkan dari Mataram. Disaat manusia berkeliling mencari makan. Di Lombok bagian ini makanan berkeliling mencari manusia. Rutinitas pagi ini kami selesaikan secepatnya demi memulai hari.

Tujuan hari ini adalah Senaru, kaki gunung dan salah satu pintu rimba Gunung Rinjani. Jarak Mataram ke Senaru jauh dari selemparan tali. Dari sudut Barat Lombok, kami perlu mengarahkan kendaraan ke Utara menyisir pantai Senggigi sebelum berbelok kanan kemudian lurus ke arah matahari terbit. Senggigi sendiri sudah terkenal dari namanya, sayang ia terlalu luas untuk dijelajahi dalam kisaran menit. Memilih dan memilah yang kebetulan sejalan, kami mampir di Malimbu dan Teluk Nare.

Malimbu dari jauh terlihat seperti seonggokan tanah menjorok keluar tebing, tidak lebih dan tidak kurang. Jika bukan karena perintah, kami berkedip pun malas apalagi untuk turun keluar dari mobil. Cuaca hari ini panas sekonyong-konyongnya. Beruntung ini masih hari kedua, semangat masih menggebu, kamera dan narsisme diri masih gatal minta beraksi.

Pemandangan dari atas mobil memang bagus, tapi siapa menyangka panas hari itu ditambah biru langit dan tepian bibir Malimbu memberi kenikmatan pada pasangan-pasangan bola mata yang hadir. Pokok-pokok kelapa di tepian tebing seketika berperan sebagai penguat aksen dari lukisan panorama sang alam. Persis dari ujung tebing memandang lurus menyisakan horizon, yang memadu dua biru, biru laut dengan biru langit. Jauh di sisi kiri tebing, berlatar depan kerbau yang berusaha merumput seadanya adalah Senggigi. Ia berbentuk bulan sabit bergincu putih. Lautnya jernih sejernih kristal dengan karang yang terlihat nyata dari puluhan meter diatas sini. Sedangkan di sisi kanan menyisakan hamparan pantai Utara Lombok. Jelas, sisi yang satu ini belum dijamahi wisata. Ia perawan, berjejer meliuk berpagarkan pohon, itu saja.

Puas berfoto, kami lanjut. Perjalanan hari ini sungguh bukan barang sebentar. Namun belum lagi berjalan lama kami kembali berhenti, kali ini Teluk Nare. Tiada yang terlalu berarti dari tempat ini selain menjadi pelabuhan alternatif menuju Gili Air. Pantainya dipenuhi kapal-kapal, baik dari nelayan maupun yatch milik resort di Gili sana. Menghemat waktu, kami mencampakkan teluk ini dan terus mengarahkan kendaraan ke Timur.

02. [ACI 2011] Bandara Soekarno Hatta

- 28 Oktober 2012 -

Tim 19 terdiri dari Diki Irawan, Nora Lestari dan Adis Mochamad Takdis. Kami bertiga asing satu dengan yang lain. Hari ini berencana untuk melakukan perjalanan bersama, bukan untuk satu atau dua hari tapi untuk 16 hari. Satu sama lain belum mengenal latar belakang maupun karakter namun sudah dipaksa untuk belajar saling mengerti dan memahami. 16 hari kedepan ini kami akan berbagi nasib bersama dalam lingkungan yang sama sekali baru. Bermodalkan satu keyakinan, yaitu saling percaya. Berhubung tiada hal lain datang menawarkan pilihan.

Kantuk sedikit meredam obrolan pagi kami di dalam taksi, semakin menjadi karena ditambah dinginnya udara AC yang terus membuat kaku ujung bibir. Perjalanan menuju Soekarno-Hatta lebih banyak berlalu dengan tatapan keluar jendela. Namun tidak lama. Jalanan Jakarta pagi ini cukup lapang. Taksi yang membawa dua dari anggota Tim 19 ini tidak lama kemudian berhenti di depan Terminal 2F, Bandara Soekarno-Hatta. Ini merupakan tempat yang memang sebelumnya sudah disetujui di awal. Kami seharusnya bertemu dengan Adis disini. Sekaligus menemui panitia perjalanan yang berjanji untuk membagikan obat-obatan dan perlengkapan P3K lainnya.

Hal pertama yang kami dilakukan adalah mencari Adis. Seharusnya tidak susah. Lagian berapa banyak orang yang berkeliaran di bandara dengan carrier sebesar itu, tanpa kawan pula. Kami menemukannya. Senang rasanya pertemuan ini tidak menyisakan rasa canggung. Malah sebaliknya ia memberikan tontonan bagi seantero terminal. Dapat dibayangkan seberapa menarik perhatiannya kami tiga anak muda dengan peralatannya yang penuh. Carrier di punggung, daypack di dada, dan selempangan kamera beserta tripod di tepinya. Senyumnya semua besar dan bersemangat. Tatapan kami bulat penuh seperti sahabat yang lama tak bersua. Bertiga berpelukan tanda pengukuhan kepercayaan. Bicaranya berseling dengan pendaman gairah kesamaan nafsu berbagi cerita tentang Indonesia. Kemudian berfoto menyiapkan bukti atas dimulainya petualangan. Sebagian tamu mungkin geli memandang. Aneh karena memang jarang ada pemandangan yang demikian. Kami tidak perduli. Malu untuk hal-hal yang seperti ini sudah dititipkan di rumah masing-masing sebelum berangkat.

Baru setelahnya kami menemui perwakilan dari panitia. Melakukan serah terima obat-obatan dan peralatan P3K lainnya. Dan sebentar saja terus masuk untuk check-in dan mengurus boarding pass untuk penerbangan nanti. Menariknya baru kami ketahui nanti. Ternyata petualangan ini akan dimulai dengan tiket yang sudah dibatalkan.

15. [ACI 2011] Perjalanan Menuju Bumi Sumbawa

Hari ini seharusnya kami sudah menutup agenda Lombok. Ekspedisi kami memang dirancang untuk lebih mengeksplorasi Pulau Sumbawa ketimbang Lombok. Ada Tim 18 dari angkatan ACI2011 yang akan mengudak-udak Lombok lebih dalam daripada kami. Tapi sudah hampir pukul 10:00 kami masih saja di Santong Mulia. Perbekalan belum diatur apalagi persiapan untuk jalan jauh menyeberangi Selat Alas. Kami harus kembali ke Mataram. Sekarang juga.

Tidak membuang waktu kami memutar kendaraan ke arah Mataram. Kali ini tidak lagi melalui jalur Utara sebagaimana kami datang kemarin. Melainkan melalui jalur tengah. Jalur ini terkenal sering longsor. Namun pemandanganya indah. Ia menembus hutan-hutan yang kerap menawarkan keteduhan lebih daripada sejawatnya di Utara. Jalur ini sebenarnya menembus gunung. Dan seperti pada umumnya jalanannya pun berliuk-liuk.

Ditengah jalan kami dihentikan. Bukan oleh polisi apalagi perampok. Hari masih siang, polisi sedang kantuk-kantuknya dan perampok masih tidur sehabis lembur semalam. Walau waktu kami tidak banyak tapi mau tidak mau kali ini kami harus berhenti. Alasannya cukup kuat, Durian dan Tuak. 15 menit tidak akan membuat kami telat. Tapi 15 menit ini bisa membuat kami tersenyum sampai Sumbawa, jadi kenapa tidak? Kami melahap seadanya, membawa tambahan satu botol tuak ke mobil, kemudian melanjutkan perjalanan.

Perjalanan mengejar waktu sejatinya tidak pernah menyenangkan. Namun ini tidak menyurutkan kami untuk menikmatinya. Daripada bersungut bosan di dalam mobil, hari ini kami dedikasikan untuk tiga perut tambun yang serakah saja. Durian dan tuak hanya makanan pembukanya.

Kami tiba di Mataram tepat tengah hari. Sebelum bersiap diri dan mengingat misi rakus kami, kami pastikan untuk mengisi perut di Sate Rembiga. Perjalanan dari Mataram menuju Pelabuhan Kayangan juga tidak boleh berlalu begitu saja. Terhitung kami berhenti dua kali lagi. Yang satu demi mengejar bakso dan yang satunya lagi sekedar gorengan di daerah Aikmel. Nafsu makan yang menggebu membuat kami baru tiba di Pelabuhan Kayangan sekitar pukul 5:30 sore, hampir Maghrib. Kalau tidak salah feri yang menyeberang Selat Atlas sudah tidak beroperasi lagi saat malam. Satu feri siap berangkat, dan besar kemungkinan ini merupakan feri terakhir untuk hari ini. Kami berlekas memarkirkan mobil rapi berjejer sama dengan yang lainnya. Mengunci pintu mobil, dan naik ke atas. Bertiga duduk manis di geladak teratas kapal. Menatap bintang yang baru saja bermunculan. Sayang waktu sudah mustahil memperlihatkan sekeliling. Malam sudah menutup tirainya. Siluet pun sudah pulang. Tinggal lagu dari handphone sempat mengalun sebentar, kemudian hening cukup lama. Tersisa suara deru mesin kapal. Tiga manusia ini duduk melewati 2 jam perjalanan feri yang tak terlupakan.

13. [ACI 2011] Batu Mesir - Santong Mulia

Tuak Lombok sudah pasti membuat mabuk. Sedangkan tidur di Bayan Beleq tidak ada dalam pilihan. Mereka juga tidak pernah menawarkan tempat sebenarnya. Ini pelik! Setelah ini kami harus kembali ke dusun Santong Mulia untuk singgah di Batu Mesir mengejar sunset. Beruntung kami sudah punya kambing hitam. Sesuai aklamasi Mang Daung, supir kami, tidak diijinkan menyentuh benda haram ini sama sekali. Sate ikan, silahkan. Tapi silahkan telan sate ikan dengan air mineral. Tidak ada tuak untuknya hari ini.

Kami tiada bermaksud kejam. Tega pun tidak sampai. Tuak seenak ini hanya bisa dirasa nikmat jika dinikmati bersama. Kalau belum ada kesempatan hari ini maka mungkin di lain waktu. Kami kembali ke mobil dengan dua botol tuak ukuran 1500ml. Alibinya untuk nanti sepanjang perjalanan. Mang Daung pun ikhlas dan kami kembali menyusuri jalan-jalan Lombok berkiblatkan Barat.

Santong Mulia. Santong Mulia merupakan sebuah dusun di Lombok Utara yang kebetulan menjadi kampung halaman dari Bang Opik dan Mang Daung. Dusun ini terletak tidak terlalu jauh, sebelah Barat, dari Desa Bayan. Disini mereka ingin mengajak kami ke sebuah tempat yang sering disebut sebagai Batu Mesir. Alkisahnya Batu Mesir merupakan tanah milik seorang haji dari Mesir. Rasanya sempat mereka menyebutkan nama. Tapi siapa juga peduli namanya. Kami kemari bukan untuk itu melainkan untuk sunset. Batu Mesir memang luar biasa cantik sewaktu sunset. Masuk sekitar 100 meter dari jalan raya utama menembus perkampungan warga. Dan memaksa melalui jalan tanah yang sudah sembradul bentuknya, kami pun sampai. Turun ditepi sepetak tanah, mungkin boleh disebut perkebunan. Dibatasi satu selokan berdinding semen dan sisanya terhampar perkebunan dan Laut Jawa. Dari sini tempat peraduan sang surya terkesan sangat magis. Pemicu utamanya tidak lain dan tidak bukan adalah keberadaan ketiga gili andalan Lombok tersebut. Dari sini mereka bertiga, gili Air, gili Meno, dan gili Trawangan terlihat seperti batu pijakan taman. Laut Jawa menjadi kebunnya yang luas sedangkan matahari menjadi langkah kakinya. Dimana perlahan ia turun diatas gili Meno. Menganak tirikan kedua gili lainnya. Sore ini segumpalan awan sengaja menutup-nutupi permainan cahaya sang surya. Sinar merahnya tetap tidak mau menyerah. Berpendar untuk yang terakhir kali. Sebagian dipantulkan ke cermin biru Laut Jawa dan sisanya ia kirim langsung ke kami di Batu Mesir. Perpaduan keduanya cuma bisa menciptakan keajaiban alam yang tiada banding. Keajaiban yang membuat anak manusia tidak rela beranjak. Perkebunan berubah menjadi siluet. Membekas merah redup di kaki langit.

Pertunjukkan matahari sore usai. Sisa-sisa cahanyanya lambat laun memudar kemudian menghilang. Batu Mesir tinggal menatap kami yang masih juga duduk. Berdecak kagum menolak percaya. Dalam hitungan detik gelap sekonyong-konyong datang menyelimuti perkebunan. Kami harus balik. Melangkah kembali ke dalam mobil dan menuju tempat peristirahatan. Suasana dusun memang sering membuat hati orang menjadi melankolis. Tapi pertunjukkan matahari sore di Batu Mesir memang benar merangsang hati ini. Kami kirimkan kecupan malam untuknya. Berharap untuk berjumpa dengannya lagi di keesokan hari. Jaga kami sampai esok Santong. Selamat malam.

Sisa malam kami habiskan dengan santap malam bersama Bang Opik dan teman-teman. Diatas bruga depan homestay miliknya. Ditemani plecing kangkung, ayam goreng, mangga hutan, pisang, anggur hutan, kerupuk kulit, dan sebakul nasi putih kewajiban setiap warga Indonesia. Penutup hari diisi dengan sedikit obrolan ringan pengantar tidur. Yang pada kenyataannya membawa kucing-kucing disebelah kami tertidur terlebih dahulu. Pulas persis dipangkuan sebelum akhirnya kami undur diri.

12. [ACI 2011] Bayan Beleq

Setiap tangga yang kami turuni harus dipanjat kembali. Itu sudah menjadi hukum alam. Begitu juga bagi kami selepas menikmati Air Terjun Sendang Gila. Melawan gravitasi memang tidak pernah enak jenderal! Ini seakan diminta bertinju dengan patung. Letih hanya bagi mereka yang terus bergerak. Tapi kami ada tujuan lain. Bayan Beleq tidak bisa menunggu lama. Hari sudah menunjukkan hampir pukul setengah tiga sore. Setibanya kembali di atas, kami berlekas memacu kendaraan ke arah Mesjid Kuno Bayan dekat Desa Adat Bayan Beleq.

Jarak tempuh kali ini tidak terlalu jauh. Lima belas menit, kami sudah berdiri diatas kedua kaki lagi. Sama sekali belum sempat memejamkan mata. Turun dari kendaraan entah bagaimana kami terpandu oleh beberapa anak-anak kampung sana. Anak-anak ini belum lagi berusia dua belas tahun. Kami juga belum lagi meminta apapun dari mereka selain bertanya dimana letak Mesjid Kuno Bayan. Anak-anak memaksa mengantar. Mungkin takut kami tersasar atau sekedar penasaran.

Mesjid Kuno Bayan jauh dari bayangan masjid yang kami ketahui pada umumnya. Anak-anak menunjuk pada satu bangunan berangka bambu. Atapnya berlapis ijuk. Tapi fondasinya terlihat luar biasa kokoh dalam tumpukan batu-batu besar. Posisinya berundak dan pada titik tertinggi dalam lingkungan kampung tersebut. Mesjid ini berbentuk persegi dengan panjang dan lebar kurang lebih 8 meter di setiap sisi. Dindingnya pendek baru setinggi anak-anak yang menemani kami. Pintu berada di sisi depan dengan anak tangga kecil yang mengarah langsung pada pintu masuk. Persis didepan pintu masuk tergantung satu gentong berukuran sedang. Ia disebutnya dahulu digunakan untuk wudhu para jemaah. Saat ini Mesjid Kuno tinggal lah sebuah rupa fisik. Ia tidak lagi digunakan tapi perannya masih besar sebagai penanda jaman.

Sekitar 200 meter dari lokasi Mesjid adalah Desa Adat Bayan Beleq. Inilah pusatnya desa Bayan. Memasuki desa adat tidak selalu menenangkan. Ia sering kali membawa kesan tegang dan kaku, takut-takut melakukan kesalahan adat yang tidak dipahami sebelumnya. Malu atau terkadang nyawa taruhannya. Dengan satu pengecualian yaitu hingga mendapat ajakan minum tuak. Kami menyempatkan diri berbincang-bincang dengan para tetua desa. Bertanya kesana kemari tidak jelas arah. Awalnya canggung. Namun tidak lama kemudian tuak pun keluar. Belum berhenti ternyata sate ikan juga kembali muncul. Suasana mencair, senyum mengambang. Dari sekian banyak kombinasi yang bisa dipadukan, tidak ada, sekali lagi, tidak ada yang lebih baik daripada kombinasi tuak dan sate ikan di atas bruga Desa Adat Bayan Beleq. Ini lah nikmat.

11. [ACI 2011] Sendang Gila - Senaru

Mendekati pukul satu siang kami memasuki desa Senaru. Senaru merupakan pintu utama pendakian Gunung Rinjani dari Utara. Hari ini adalah hari Sabtu. Tapi kondisinya sepi. Tidak terlihat pengunjung sama sekali. Terutama pada pos jaga. Pohon dan batu saja yang melapor. Sedang manusia hanya kami segerombol. Sekelibat kami mengintip ke dalam. Membaca-baca papan pengumuman serta papan daftar tamu: Jerman, Jerman, Austria, Australia, Jepang. Pendaki yang datang dalam beberapa hari terakhir hampir tidak ada orang Indonesia! Apa benar tidak ada orang Indonesia yang mendaki Rinjani? atau mereka sekedar tidak pernah lapor? Ah masa bodoh, kami kesini bukan untuk mencari tahu. Tidak mengambil pusing kami rebahan sebentar pada bruga yang tersedia di depan pos jaga. Bercengkerama dengan pohon dan batu masih lebih nikmat. Kami menikmati sepoi angin sejenak. Merebah melepas penat kurungan mobil. Membiarkan waktu bergerak sendiri. Selagi kami tenang dalam bekap alam. 

Lepas puas memanjakan diri, Bang Opik mengajak kami kembali turun beberapa ratus meter. Kembali ke gerbang masuk Senaru. Dimana warung-warung setidaknya masih berpenghuni. Sedikit berbasa-basi dengan pemilik warung kemudian kami memutuskan untuk turun ke air terjun Sendang Gila.

Selalu ada sejarah dibelakang setiap nama. Entah itu dari sifat, keadaan, lokasi atau mungkin kejadian-kejadian yang sering atau banyak terjadi di daerah tersebut. Nama Air Terjun Sendang Gila juga tidak jauh beda. Kata “sendang” berasal dari bahasa Sasaq yang artinya mata air. Dan ia disematkan nama “gila” karena lokasinya yang dahulu begitu sulit untuk dijangkau. Namun sekarang Sendang Gila sudah tidak terlalu gila. Air terjun ini bisa dicapai dengan menuruni anak tangga kurang lebih selama 15 menit. Tangga semen telah mengeras membukakan jalan bagi tiap pemuja. Beruntunglah kami yang tidak perlu menggila mencapai air terjun nan indah ini.

Dari dasar lembah ia terlihat megah. Menjulang kurang lebih 35 meter ke udara. Mengucurkan air bagai kucuran dari langit. Tiap butir memberkati siapa pun di hilirnya. Jatuh dan kemudian sebagian pecah kembali ke udara. Uap-uap air membentuk kabut palsu yang dahulu pasti membuat penemunya merinding kelu. Sisanya berkumpul, menyusup tanah, merangkai aliran sungai yang kemudian mengelus perut-perut bumi dan merawat perut-perut manusia. Airnya memang bukan yang terbesar, tapi Sendang Gila sering membuat pemujanya gila tak ingin pulang.

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video