Minggu

Kamu Kira Kampusmu World Class University

Frase kampus World Class University (WCU) sudah beberapa kali dijadikan jualan (atau dagelan?) para pemimpin universitas dan atau tim marketing beliau-beliau itu. Tapi, apakah kita sudah benar-benar paham dengan istilah maut ini?

Menurut bahasa, WCU berarti universitas kelas dunia. Kelas dunia … maksudnya bisa bersaing di garis terdepan bersama universitas kelas dunia semacam Oxford, Harvard, Berkeley, Delft, Tokyo daigaku, HKUST, dsb. “Kelas dunia” disini adalah pengejawantahan dari pemeringkatan yang dibuat oleh beberapa agensi dan universitas.

Lalu bagaimana dengan kampus/perguruan tinggi (PT) di Indonesia? Jika berpatok pada kemutakhiran kampus-kampus “kelas dunia”, maka perguruan-perguruan tinggi di Indonesia seperti anak SMP yang baru belajar persamaan kuadrat, sedangkan kampus-kampus WCU sudah belajar Kalkulus dan Aljabar Multivariabel.

Kabar baiknya adalah tidak setiap “anak” harus belajar Kalkulus. Bisa saja setelah SMP si anak masuk SMEA atau pindah ke Australia ambil sekolah chef. Mungkin PT di Indonesia tidak perlu jadi WCU. Yang terpenting sekarang, si anak SMP ini perlu mencari tahu bakat dan minatnya.

*

Kampus kelas dunia adalah pemeringkatan dari sekelumit parameter yang telah ditentukan “panitia”. Maka dari itu seseorang tidak bisa asal mengklaim bahwa kampusnya WCU. Ini salah satu set parameter yang digunakan THE World University Rankings:

  • Teaching: the learning environment (worth 30 per cent of the overall ranking score)
  • Research: volume, income and reputation (worth 30 per cent)
  • Citations: research influence (worth 30 per cent)
  • Industry income: innovation (worth 2.5 per cent)
  • International outlook: staff, students and research (worth 7.5 per cent)

Mari kulik kesalahpahaman soal WCU

Pertama, soal tenaga pengajar. Dalam sebuah WCU, ada banyak profesor (guru besar) di satu departemen/jurusan. Bagaimana dengan di Indonesia? Jangan muluk dulu deh. Berapa persen dosen di jurusanmu yang sudah bergelar doktor? Di antara para doktor itu, berapa yang rutin riset dan menulis buku. Siapa yang sudah punya “branding” ekspertis? Misalnya, Bapak A itu ahli bioremediasi, Ibu B ahlinya kantung semar dunia, Ibu C filologis ternama yang sering diundang ke Belanda, dan sebagainya. Ketika seseorang tidak dikenal di bidangnya, yang bersangkutan belum berbuat sesuatu yang signifikan.

Kedua, kompetisi di antara mahasiswa. Dari cerita teman saya yang pernah short course bersama anak-anak Harvard dan kampus top lainnya, doi shock melihat kompetisi antarmahasiswa dalan tugas, kecepatan daya serap ilmu baru, dan keaktifan di kelas. Sekarang lihat di sekitarmu. Berapa kepala yang pelajarin buku teks sebelum datang ke kelas? Berapa orang yang niat banget kalau udah soal bikin paper? Berapa orang yang aktif berdiskusi di kelas? Jangan ngaku-ngaku kampus kelas dunia kalau kuliah masih satu arah, mayoritas cengok di kelas, dan bikin tugas sekadarnya.

Kita tidak juga bisa mengharapkan ada diskusi di kelas ketika dosen baca buku teks tapi mahasiswa cuma ngafalin slide. Ga apple to apple dong isi kepala dosen dan mahasiswanya. Mungkin ini juga yang bikin diskusi jarang terjadi.

Ketiga, fasilitas riset masih amburugul. Buat anak sains dan teknik pasti paham bagaimana kesulitan kalau udah soal instrumentasi dan pengukuran yang “mahal”. Fasilitas satu lab seorang sensei di kampus top di Jepang bisa lebih lengkap dan canggih dari satu fakultas (bahkan sekampus) di PT Indonesia. Mari salahkan minimnya investasi negara buat riset, yaitu masih 0.09% dari GDP, saat negara lain sudah 0,5-1,0%. Makanya guys, banyak baiknya kalau mau belajar sains dan teknik di tingkat magister dan doktor di luar negeri, di WCU.

Keempat, “Kampus gua kelas dunia, tuh lihat … banyak bulenya.” Jumlah mahasiswa luar negeri yang exchange ke sebuah kampus cukup bisa jadi acuan bagaimana International awareness and acknowledgement sebuah kampus dan bagus-tidaknya jejaring para dosennya. Tapi, pernah nanya ga, apa alasan tuh bule belajar di kampusmu? Karena fasilitas kampusmu? Karena tidak ada opsi lain? Atau karena pengen jalan-jalan? :D

Kelima, “Kampus gua kampus kelas dunia, karena banyak dosen luar negeri bikin seminar di sini.” Hallo … pada banyak kasus, kuliah tamu adalah karena undangan penyelenggara, dimana seluruh pengeluaran ditanggung. Siapa sih yang ga mau jalan-jalan gratis ke Indonesia dengan cukup ngasih kuliah 1-2 jam? Lo baru bisa bangga kalau dosen-dosen kampus lo yang sering diundang ke luar negeri. Diundang karena dibutuhkan, mengundang karena membutuhkan.

Keenam, kesenjangan keilmuan dosen dan mahasiwa. Tadi sudah sedikit dibahas bahwa dosen dan mahasiswa di Indonesia, pada umumnya, bacaanya ga sama. Satunya handout dan wikipedia, satu lagi buku teks dan jurnal/sirkular edisi teranyar. Budaya keilmuan yang egaliter sepertinya masih jauh. Mungkin ada beberapa outlier, teman-teman kita, yang sudah bisa berdiskusi dengan dosen di sesi-sesi ngopi santai. Namun, pada banyak kasus pasti mahasiswa menghindari dosen. Pas bimbingan skipsi contohnya, berapa sih yang bisa rigorously argue idenya sama si dosen. Ini apakah karena dosennya yang pinter banget, mahasiswanya yang mengalami inferiority complex, atau emang si mahasiswa ga punya “amunisi”.

Bayangin deh, ketika kita, generasi muda, para mahasiswa, sudah cukup baca dan bisa melihat isu-isu mana yang strategis, perlu, dan menarik dibincangkan, kita bisa banget ngopi bareng sama dosen di kantin fakultas. Kalau di kampus kelas dunia mah … sudah beberapa kali kejadian mahasiswa dan dosen pembimbing dapat penghargaan Nobel bareng. 

Dari uraian di atas, tiap dari kita sadar bahwa kampus-kampus di dalam negeri masih jauh dari apa yang disebut kelas dunia. Mungkin satu-dua dosen sudah dapat pengakuan International, tapi itu tidak otomatis membuat satu kampus menjadi kelas dunia. Ketika kita bicara soal pemeringkatan, maka panitia menilai keseluruhan performa. Jika investasi untuk keseluruhan elemen kampus (infrastruktur, pendidikan pengajar, akses jurnal, budaya keilmuan, dan seterusnya) dirasa begitu mahal, maka tiap pemimpin kampus (dan juga kementerian terkait) perlu memperhatikan elemen mana yang ingin dikuatkan. Apakah kampus Anda ingin menjadi kampus yang baik pengajar(an)nya, yang tinggi employment rate-nya, yang oke risetnya, atau yang menelurkan para pemikir dan pebisnis andal? Yang terpenting adalah si anak SMP segera mulai mengenal dirinya, kekuatan dan kebutuhannya.

Kampus-kampus di Indonesia mungkin belum cukup lama berjalan untuk menelurkan pemikir-pemikir besar, punya sistem ajar yang bernas, dan menjadi “kebanggaan” dunia. Bisa jadi karena PT di Indonesia belum punya peta yang jelas, atau masih terbawa bayang-bayang penjajahan dan revolusi industri. Ini wewenang pemangku kekuasaan soal kemana arah PT dibawa.

PR buat mahasiswa dan eks-mahasiswa

Menurut saya pribadi, budaya baca belum jadi sesuatu yang seksi di teman seumuran kita. Kita semacam tidak punya waktu untuk membaca buku-buku “wajib” untuk memulai perjalanan menjadi ahli di suatu bidang. Kita bisa saja menyalahkan bagaimana kampus telah menyempitkan definisi sebuah pendidikan menjadi “tips menyelesaikan soal ujian”. Bagaimanapun, pada sistem yang jauh dari ideal, sekadar menuntut adalah kesia-siaan.

Satu kelemahan yang saya rasakan pribadi adalah lemahnya kemampuan self-study atau independent study saya. Apakah karena ini tidak diajarkan sedari ospek? Padahal untuk menjadi pribadi yang merdeka, kita harus jadi pembelajar yang merdeka. Pembelajar yang merdeka adalah mereka yang bisa mendayagunakan resource di sekitarnya dalam prosesnya menjadi ahli di satu bidang (expert) atau di banyak bidang (polymath).

Coba bayangkan, setelah lulus sarjana, apakah kamu bisa menjadi seorang “sarjana” bidang lain tanpa harus masuk kampus lagi? 

Saya hanya berpikir bahwa status sarjana, master, dan doktor adalah sebuah level keilmuan dimana kita sudak cukup pintar untuk bikin skripsi di bidang yang lain, tesis di bidang yang lain, dan desertasi di bidang yang lain—respectively. Sarjana, di mata saya, adalah satu set study skill, bukan sekadar selembar ijazah. Apakah kamu sepaham denganku?

Akhir kata, buat yang sudah bekerja, jangan lupa membaca ya! Katanya sih, rutinitas bikin bego. Status mahasiswa mungkin usai di usia 21-22 tahun. Tapi, yang terpenting kita tidak berhenti menjadi seorang pembelajar. #yeah

Tiada apa yang dapat ku gambarkan
untuk waktu dan detik ini
melainkan dengan kata-kata
dengan harapan
segala apa yang terbuku
akan terluah
biarpun tiada
siapa yang peduli dan ambil peduli
namun aku masih mampu meluah
kerana aku yakin
setiap bicara ku & doaku
Allah SWT selalu ada mendengarnya…
 #sendiri tak bermakna bersendirian

Dealing with Sunday Morning wake up

Bangun pagi di hari minggu merupakan sesuatu yang optional bagi saya. Ini biasanya terjadi karena:

A. Di telp. kantor

B. Upacara adat

C. Mendadak pengen olahraga

D. #suamiSiaga

E. Digangguin pagi-pagi

Keep reading

Jadwal Lengkap Liga Italia Sabtu 18 April dan Minggu 19 April

Jadwal Lengkap Liga Italia Sabtu 18 April dan Minggu 19 April

Jadwal Lengkap Liga Italia Sabtu 18 April dan Minggu 19 April Luthfie Febrianto Jum’at,  17 April 2015  –  18:53 WIB Serie A akan memasuki pekan ke 31 besok / Ist ITALIA – Delapan pertandingan bakal digelar dalam pekan ke 31 Liga Italia Serie A, Sabtu (18/4) dan Minggu (19/4). Satu dari delapan partai itu

View On WordPress

Ahad bermanfaat, mencari ilmu bersama Mama tersayang. “Terkadang orang keluar rumah dengan menanggung dosa sebesar gunung Thihamah. Tetapi ketika ia mendengarkan ilmu yg dibahas di majelis ta’lim, dia merasa takut dan bertaubat. Maka ketika pulang dia menjadi bersih dari segala dosa. Oleh karena itu dekatilah majelis ta’lim, karena tiada majelis yang lebih mulia dari majelis ta’lim.”
- Umar Bin Khaththab
@maeindonesia #BeraniSyari #SetiapHari #Minggu #SedangBelajar #Istiqomah

Berhati-hatilah

Berhati-hatilah. Jangan sampai Allah SWT menutup hatimu, sehingga kata “selama-lamanya” tak lagi bermakna, dan kata “Neraka” hanya menjadi penghias kalimat yang diucapkan seorang ibu pada anaknya yang tak pantas kelakuannya.

Berhati-hatilah. Jangan sampai Dunia yang kau tinggali terasa hampa, dan hidupmu tak lebih dari menghabiskan waktu yang sia-sia. Sampai waktu terasa sekelebat mata, selayang pandang saja.

Berhati-hati pulalah. Jangan sampai berlebihan sehingga mengorbankan nyawamu untuk berjihad di jalan yang salah, sementara saat Shubuh kau masih bergulung dalam selimut yang nyaman dan hangat.

Berhati-hati pulalah. Jangan sampai waktumu dihabiskan di jalan yang salah, penuh gelimang harta dan buta akan hingar-bingar dunia. Sementara kau lupa, bahwa saat mati nanti, semua menjadi tidak ada artinya.

Duduk dan merenunglah, apakah kita masih memahami makna kata “Neraka” dan “selama-lamanya.”

Rahasia hari Senin ‘Mengesalkan’

Rahasia hari Senin ‘Mengesalkan’

Menanti tibanya hari Minggu setelah enam hari yang menekan, laksana minum es di tengah terik matahari. Lebih dari waktu untuk berkumpul dengan keluarga, hari Minggu juga memberikan ruang psikologis untuk bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri, mulai dari bermalas-malasan, berbusana kedodoran, hingga menikmati menu masakan kegemaran.

Minggu malam sekitar jam sembilan atau sepuluh malam, bayangan…

View On WordPress