'itus'

Orang yang faham tentang agama bererti dia dapat menyesuaikan, menyelaraskan, menyerasikan sikap, perangai, perilaku dengan ruang, suasana dan keadaan!

Handphone di mana sepatutnya, hiburan bagaimana sepatutnya, makan tempat mana sepatutnya…

Kalau sepatutnya ketika itu berzikir, maka dia berzikir. Kalau di situ tuntutannya utk senyap, maka dia senyap.

Mana betul kalau spek mata diletak di lutut. Mana betul kalau songkok diletak di siku. Mana betul kalau jam tangan diletak di kaki -itu namanya jam kaki!

Begitu juga masjid yang bukan dibangun untuk sms-an, fb-an atau gayutan, melainkan untuk zikir dan ubudiyah!

Pandangan Allah tidak pernah luput daripada kita walau di manapun tanpa membedakan antara kita. Jadi kalau memang waktu itu kita di masjid yang tujuannya imarah, untuk maghfirah - hendaklah kita tetapkan waktu kita untuknya. Kalau boleh handphone tidak dibawa, kalau tidak boleh, pastikan ditutup. Kita putuskan supaya konsentrasi kita hanya kepada Allah!

Kalau bicara tentang keperluan, kita semua ada keperluan. Kalau bicara tentang kesibukan, semua ada kesibukan. Kita ini tidak ada yang sama rupanya. Yang walaupun rupa tidak sama, usia pun tidak sama, banyak benda yang berbeza antara kita , tetapi masih banyak yang sama antara kita - kita makan dan minum, kita punya masalah, kita ada keinginan, keperluan, hajat, dan kita sama-sama terganggu dengan sesuatu yang mengganggu; terasa senang dengan sesuatu yang menyenangkan.

Maka kalau orang lain boleh senyap, kita juga boleh senyap. Kalau orang lain boleh berzikir, kita juga boleh berzikir, kalau orang lain boleh beramal, kita juga boleh beramal!

Jadi ulama’ rabbani, kita terlalu jauh. Cukuplah kalau kita boleh jadi golongan yang yufaqihhu fiddin!

—  Catatan tausiyah Al-Waleed Asy-Syeikhuna, Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu Al- Banjari Al-Makki.
Masjid KUIS, Bandar Seri Putra.
Selamat Hari Ibu untuk Ibu dan (calon) Ibu mertua. Terima kasih telah melahirkan dan merawatnya penuh dengan cinta. Walaupun anak Ibu itu jarang mandi, tapi saya tetap suka :D
—  Untuk Ibu : Maaf, masih usaha ngasih mantu.
Menunda juga penyakit, seperti menunda mengerjakan tugas, menunda olahraga, menunda menabung, menunda bertaubat, menunda berencana, dan menunda menyicil mimpi. Waktu kita terbatas, Bung, dan kita tidak tahu bakal secepat apa “batas” itu dipancang Tuhan.

Kau tahu, jika dikaitkan dengan kenangan dan ingatan, hal-hal sederhana seringkali mampu hasilkan
sesuatu yang rumit.

Melihat buah- buahan yang dijual di tepi jalan itu saja, misalnya, tempo hari berhasil membuatku teramat rindu pada rumah dan mama.

Melewati sekelompok anak kecil yang sedang menendang bola (atau bermain mobil-mobilan) pun mampu berikan efek yang sama.

Aku yang terlalu cengeng, atau
memang rasa rindu bisa hadir semudah itu?

Jangan membenci seseorang yang membencimu, sesungguhnya dia patut dikasihani dan dikasihi, dan didoakan agar cepat sedar. Dengan itu, untuk membuang segala fikiran dan tanggapan yang negatif, kita harus kuat, harus ikhlas.
kalaulah orang lain tahu aib kita, mungkin orang itu tidak tahu mendekati kita.
—  cikwin.
Seseorangmu, C.

Zic, aku tidak tau sejak kapan aku merasa sangat ketakutan kehilanganmu. Bukankah dulu kita begini karena saling cinta? Tapi kenapa perasaanmu kini lenyap begitu saja? Sebegini menyakitkankah jika cinta telah berubah? Aku benar-benar tidak paham.

Dan di sinilah aku, menjauh darimu, Zic semua demi menghindar darimu. Aku berharap kerlip bintang, sinar rembulan, dan suasana yang hening, dapat mengalihkan perhatianku dari kepedihan.

Tapi, hati memang tidak bisa berbohong. Aku tetap merindukanmu, meski aku tak lagi melihatmu. Dan sebagian kecil dari hatiku berharap kau kembali. Apa itu salah, Zic?

Aku harap kamu bahagia selalu. Jangan lupa makan teratur, jangan terlalu lelah, dengarlah musik Yiruma yang menenangkan saat hatimu kalut. Dan ingat…

Kau masih memilikiku, Zic; kemarin, hari ini, dan esok.

Malaikat

Kau datang padaku ketika aku rindu. Rindu pada apa saja yang membuatku bahagia. Kau datang bak malaikat yang memotong sayapnya, hanya untuk tinggal lebih lama di tempat aku berada.

Sekian sering aku bersamamu, aku mulai mengerti debar apa itu. Aku mulai tahu rasa apa itu. Sekian sering kita tertawa bersama, aku mulai mengerti, jika sebenarnya waktu tak pernah berhenti, hanya aku yang tak pernah rela untuk menyudahi.

Sekian sering, hingga aku lupa jika bukan di sini tempatmu berada. Kau harus pergi sesaat sayapmu tumbuh kembali. Kau beri aku rasa yang ternyata hanya untuk aku peluk sendiri saja. Kau pergi, bahkan sebelum aku tahu rasanya memiliki.

Entah bagaimana kini aku menyikapinya, jika cinta itu tercipta hanya untuk mengenalkanku bahagia saja, tak lebih dari harapan yang tumbuh di kerangka kepala.

Kau malaikat yang dikirimkan Tuhan hanya untuk membantuku membuat cerita, untuk kelak aku baca bersama malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menemaniku memaknai isi cerita.

Dakwah itu,buat orang yang kuat,kuat hatinya,kuat jiwanya.
—  Kuat hatinya hadapi ujian,kuat hatinya hadapi tohmahan
Di sebalik kemeriahan berlangsungnya sesuatu majlis perkahwinan pasangan pengantin itu terkadang kita lupa bahawa ada ‘hati hati’ yang terluka, kerana pelamin angannya bersama salah satu pasangan yang sedang di raikan ketika itu musnah separuh jalan.
Kekuatan Apa Yang Kau Punya Untuk Membuktikan, Bahwa Cinta Itu Ada?

Kekuatan apa yang kau punya untuk membuktikan, bahwa cinta itu ada? Ada yang mengaku cinta, sampai membasuh kulitku dengan rayuan mesra dari bibir dan suaranya. Mengacaukan jaring-jaring nadi yang telah kusulam dari yang silam. Menjanjikan bahagia di masa yang akan tiba, hanya jika kubelai manja - pada kepalanya, dan seisinya.

Kekuatan apa yang kau punya untuk membuktikan, bahwa cinta itu ada? Ada yang mengaku cinta, sampai pujian jadi hinaan. Anggaplah ini seperti, “Tiada yang boleh memujimu selain aku.” Sementara, ia memberiku cermin yang tak sempurna. Mataku terpecah tiga, hidungku separuh saja, bibirku entah di mana.

Kekuatan apa yang kau punya untuk membuktikan, bahwa cinta itu ada? Ada yang mengaku cinta, sampai rindu dan wajah persis birunya. Kepalaku adalah kakinya, kakiku adalah tangannya. Langkah telah dijerat, cantik rupa pun didamprat, sebelum sempat kuteriaki ia keparat. Hingga, kening yang mesti dikecupnya, hanya ditangkap oleh ubin yang dingin.

Kekuatan apa yang kau punya untuk membuktikan, bahwa cinta itu ada? Ada yang mengaku cinta, sampai menghitungnya dengan biaya. Rayuannya hanya tentang duga untuk seberapa. Layak tak layak, pantas tak pantas, seolah sedang jual-beli suratan. Aku, kekasihnya yang tersurat.

Kau mengaku cinta. Maka, aku bertanya, “Kekuatan apa yang kau punya untuk membuktikan, bahwa cinta itu ada?”


Desember, 2014
Elsa Syefira Qhoirunnisa

Amanah tidak perlu dicari. Namun ketika amanah itu datang, lakukanlah yang terbaik. Barakallah wa innalillah…
Sampaikan ke ibu kamu ya, selamat hari ibu… terima kasih telah melahirkan kamu ke dunia, merawatmu hingga dewasa, dan suatu saat nanti aku memohon ijinmu bu untuk melimpahkan tugas itu kepadaku. Aku akan menjaga dan menyayangi anak ibu.
—  Untuk ibu kamu dari aku, calon menantunya…haha (padahal si calon aja belum ada)

jika aku tiba-tiba berhenti mengejarmu dan menoleh pada salah satu dari mereka yang mengejarku atau aku mengejar orang lain.

Apakah kau akan baik-baik saja?

setelah aku mencintaimu dengan cara paling berbeda, cara yang paling unik ini, lalu meninggalkanmu begitu saja?

apa kau akan baik-baik saja?

setelah aku mengatakan bahwa aku berharap kau menjadi masa depanku lalu aku mengatakan hal itu pada orang lain?

aku jahat kan?

mataharimenari asked:

hallo kak tia, aku udh terlalu jatuh dgn seseorang. kami telah menjalin kedekatan hmpir 1th ini, bnyak pengorbanan yg sdh saling kami lakukan. tapi dia tak kunjung memberi kepastian krn alasan trtentu. apakah aku hrs tetap bertahan? trima kasih. :)

Perihal bertahan atau tidak, itu terserah padamu. Aku sih tak mau mendikte seseorang harus bagaimana.

Tapi…
Bagiku pengorbanan apapun tidak ada artinya bagi seseorang yang tak hendak memberi kepastian.

Apa yang mau digenggam dalam nyata bila kepastian saja tidak ada?

:)

pesan seorang murabbi :
jika kita melakukan sesuatu perkara hanya ingin memperoleh sesuatu, maka kita hanya dapat sesuatu. sebagai contoh, jika kita bekerja hanya berniat untuk mendapatkan gaji, maka hanya gaji yang kita dapat. berbeza jika kita bekerja niat kerana Allah ta’ala, maka ia dikira sebagai satu ibadah dan kita akan peroleh pahala disis Allah serta keberkatan di dunia mahupun akhirat.
— 

*setiap perkara itu bergantung pada niat.

Mohd Dyiyauddin Jamaluddin

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya tentang hukum merayakan hari ibu.

Jawaban:

Semua perayaan yang tidakk diajarkan oleh syariat agama adalah perayaan-perayaan bid’ah, tidak dikenal pada masa as-Salafush Shalih, dan sangat mungkin awalnya berasal dari selain kaum Muslimin. Maka, selain hal itu merupakan perbuatan bid’ah, juga berarti menyerupai musuh-musuh Allah.

Perayaan-perayaan Syar’i itu telah diketahui oleh semua pemeluk Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha serta hari raya Pekanan, yaitu
“hari Jum’at”.

Dalam Islam, tidak ada perayaan-perayaan yang lain selain yang tiga ini, maka semua perayaan baru selain yang tiga itu adalah tertolak kepada yang mengadakannya dan hukumnya batil dalam syariat Allah.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (bagian) darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)

Maksudnya adalah ditolak dan tidak diterima di sisi Allah. Dalam lafazh lain disebutkan,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka hal itu tertolak.” (HR. Muslim)

Karena itu, maka tidak boleh merayakan hari raya yang disebutkan dalam petanyaan tadi yang dikenal dengan istilah “Hari Ibu”. tidak boleh mengadakan sesuatu yang menunjukkan simbol perayaan,

seperti: Menampakkan kegembiraan dan keceriaan, mempersembahkan hadiah, dan lain sebagainya.

Seharusnya seorang Muslim merasa Mulia dan bangga dengan agamanya, dan hendaknya cukup melakukan apa yang telah ditetapkan Allah bagi para hambaNya, tidak menambah ataupun
menguranginya.

Lupa itu penyakit, seperti lupa pernah bahagia, lupa cara bahagia, dan lupa membahagiakan orang lain.

gagonggwapo asked:

Poem hahahha

Gagonggwapo meets bastardo

Kita mo nga naman, akala mo kung sinong gwapo..

Tabi na, wag nang humarang mga retard

Humanda na kayo andito na si Jumbastard.

Okay, fliptop na itu. hahahah